Halaman

nongol

Minggu, 12 Februari 2012

PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN



 RESUME BUKU
"REKONSTRUKSI PENDIDIKAN NASIONAL"

NGAINUNNAIM


Salam Pergerakan!!!!
Kebumen, Juni 2011, Slamet wahibi.

BAB I
PENDIDIKAN DAN PENGAHARAPAN


A.            Memaknai (Kembali) Pendidikan

tak ada yang lebih tajam menilai daripada orang yang tak terdidik. Ia tak tahu argumen kontra, namun selalu percaya bahwa dirinya benar– Ludwig feurbach

Rasanya tidak akan ada orang yang menafikan arti penting dari pendidikan. Hampir semua orang akan sepakat bahwa pendidikan itu memiliki manfaat yang besar dalam kehidupan manusia. Banyak pihak yang meyakini bahwa pendidikan adalah instrumen yang paling penting sekaligus paling strategis untuk mencapai tujuan individual maupun sosial. Setiap individu membangun mimpi-mimpi masa depan yang indah dan menjanjikan dalam kehidupannya, maka ia membutuhkan alat bantu untuk mewujudkannya. Mungkin saja bisa belajar dari lingkungan, teman, atau dari membaca buku,. Semua itu merupakan “jalan” yang membuka ke arah perwujudan mimpi. Tetapi dari mekanisme tersebut, pendidikan lewat jenjang sekolah yang paling memungkinkan dan memberikan peluang besar untuk mencapainya. Sebab, sekolah lebih sistematis, terpola, dan memberikan peluang paling besar bagi tercapainya mimpi-mimpi tersebut.

Dngan demikian bukan berarti mekanisme yang lain tidak penting, atau tidak akan mengantarkan seseorang untuk meraih kesuksesan. Sebab ada fakta-fakta sosial yang yang membuktikan bahwa ada yang mampu meraih kesuksesan hidup, karier, bisnis dan sejenisnya, meskipun mereka tidak mengenyam pendidikan formal lewat jalur sekolah. Kesuksesan mereka juga sebenarnya melalui pendidikan yaitu pendidikan meminjam istilah Emha Ainun Nadjib “( Universitas Kehidupan)”. Namun demikian, mereka yang sukses dengan jalan dan kondisi semacam ini sangat sedikit jumlahnya. Hanya orang-orang yang memilikai keteguhan jiwa, kegigihan usaha saja yang mampu meraih apa yang menjadi impian dalam hidupnya. Sementara orang yang sukses menggapai mimpinya karena di pengaruhi oleh jenjang pendidikan yang di tempuh, jumlahnya jauh lebih banyak.
Itulah mengapa pendidikan menjadi tumpuan harapan bagi sebagian besar masyarakat. Sebab, pendidikan diyakini akan mampu memberikan gambaran masa depan yang lebih cerah.  Dunia pendidikan sangat di pengaruhi oleh dinamika hidup, baik itu sosial, politik, budaya dan sebagainya. Aroma dominan yang saat ini kental adalah pemahaman bahwasanya pendidikan adalah alat untuk mencari kerja. Tujuan utama orang sekolah adalah kejelasan masa depan . manfaat lain dianggap sebagai pelengkap saja. Maka, sekolah atau jurusan yang lebih di minati adalah sekolah yang lulusannya memiliki pelunag kerja lebuh besar. Sementara sekolah atau jurusan yyang “asing” dengan dunia  kerja akan semakin sepi di tinggal peminat.

Realitas semacam ini sebenarnya sah-sah saja dan tidak salah sepenuhnya. Tetapi memahami pendidikan hanya sekedar alat untuk mencari kerja merupakan bentuk reduksi terhadap makna pendidikan yang lebih subtansial. Seharusnya  di posisikan  secara proporsional bahwa subtansi pendidikanlah yang harus memperoleh penekanan. Adapaun kemudian setelah sekolah memperoleh pelung kerja lebih luas merupakan konsekuensi logis dari proses pendidikan yang tengah di jalankan.

Seharusnya Indonesia saat ini bisa menjadi contoh oleh negara-negara lain, karena dilihat dari kultur budaya, sumber daya alam, dan geo sosial, Indonesia merupakan Negara yang besar dan kaya raya, namun yang terjadi Indonesia pada hari ini harus belajar dari negara- negara lain. karena Indonesia pada hari ini tertinggal jauh oleh negara-negara tetangga, contohnya korea selatan, negara ini dalam beberapa puluh tahun terlibat konflik panjang dengan negara tetangganya sendiri yakni korea utara. Selain itu korea selatan juga pada waktu itu sedang dilanda persoalan politik yang menghabiskan energi sosial, politik, dan ekonomi negara. Namun, negara tersebut membangaun sistem yang canggih untuk kembali memajukan negaranya, yaitu memberikan perhatian penuh terrhadap dunia pendidikan. Jumlah sekolah diperbanyak, kualitasnya di tingkatkan seara sistematis, dan banyak memberikan beasiswa besar-besaran kepada warganya yang memiliki kemampuan memadai untuk melanjutkan jenjang pendidikan, baik didalam maupun diluar negri. Hampir perguruan-perguruan tinggi di negara-negara maju di barat memiliki beasiswa yang berasal dari korea selatan. Selain itu, mentalitas serta spirit kompetitif juga di tanamkan lewat jenjang pendidikan yang ada. Sehingga negara penghasil ginseng tersebut kini menjadi negara yang cukup di perhitungkan dalam kancah global.
Kondisi ini sudah tentu berbeda dengan Indonesia. Sampai sekarang persoalan demi persoalan pendidikan terus saja terjadi. Rasanya bangsa ini hanya sibuk dengan persoalan yang sungguh tdak pernah berubah. Contoh masalah yang sampai saatini masih bercokol adalh perdebatan panjang mengenai  UN, perjokian, korupsi buku pelajaran, dan setumpuk persoalan lainnya yang terus saja berlangsung nyaris secara rutin tiap tahunnya. Tidak pernah ada wacana dan diskursus baru yang lebih fungsiaonal dan memberikan perubahan yang signifikan. Keniscayaan yang timbul adalah kualitas SDM masyarak Indonesia bukannya semakin meningkat justru malah tergerus dalam kancah persaingan Global. Dalam laporan program pembangunan perserikatan Bnagsa-Bangsa (UNDP) yang mengumumkan mengenai Laporan Pembangunan Manusia (Human Development Report), yang dimaksud di dalamnya adalah indeks pembangunan manusia (Human development index- HDI) Tahun 2007 misalnya, menyabutkan bahwa posisi Indonesia berada di peringkat ke 112 dari 175 negara yang ada di dunia. Kondisi ini tentu cukup memprihatinkan karena posisi Indonesia hanya terpaut sedikit di atas kamboja (130), myanmar yang senantiasa dirunding konflik (131) dan laos (135). Sedangkan posisi negara ASEAN lainnya, jauh di atas Indonesia termasuk vietnam yang berada di peringkat 109.

 Keadaan ini nampaknya selaras dengan kualitas SDM dalam bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan Indonesia juga berada di peringkat ke-112 dari 154 negara di dunia., sementara vietnam ada di peringkat ke-96, Malaysia di peringkat ke-56, dan Philipina di peringkat ke-76.
Mungkin anda menanyakan validitas ini. Dan itu sah saja adanya. Tetapi yang sesungguhnya jauh lebih penting adalah bagaimana menjadikan penilaian tersebut menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan. Menggugat validitas dari penilaian ini mungkin mampu untuk mengubah peringkat, tetapi apa implikasinya dari realitas sesungguhnya? Kita harus mengakui dengan jujur bahhwa sesungguhnya kualitas dunia pendidikan dan SDM masyarakat kita masih membutuhkan ikhtiar panjang untuk menjadi lebih baik. Rasanya masih jauh langkah yang harus kita tempuhuntuk menjadikan dengan kualitas yang unggul. Dengan demikian, kerja keras untuk memperbaiki dunia pendidikan dan meningkatkan kualitas pensisikan dan meningkatkan kualitas SDM jauh lebih penting dari mendebat soal peringkat. Kalaupun kondisi kalupun kondisi pendidikan dan SDM kita memang sudah mumpuni, tentu perangkat yang kita  peroleh juga akan mengalamin perubahan dengan sendirinya.
Dalam kerangka inilah, menarik untuk merenungkan apa yang ditulis oleh The Liang Gie. Gie mengatakan bahwa perkembangan berbagai ilmu di negara maju berlangsungluar biasa cepat. Perkembangan itu hanya dapat di kejar oleh para mahasiswa Indonesia kalau mereka giat melakukan kegiatan studi dengan cara-cara yang efisien. Efisiensi  studi harus dipelajari, dipahami, dikuasai, dan diterpakan oleh mahasiswa yang unggul. Mahasiswa yang unggul kelak dapat menjadi sarjana yang bermutu kelak dapat berguna bagi kemajuan nusa dan bangsa (2002: 9).
Seorang mahsiswa yang unggul adalah mahsiswa yang mengembangkan budaya studi dalam dirinya. Budaya studi adalah gairah yang membara untuk mempelajari ilmu-ilmu bagi tugasnya kelak, dan ketekunan yang ajekuntuk melakukan studi yang efisien setiap hari. Jadi, seorang  yang unggul menampilkan 3 ciri pokok berupa gairah belajar yang mantap, semangat maju yag menyala, dan kerajinan mengusahakan efisiensi studi sepanjang waktu. Rasanya tidak ada yang tidak sepakat dengan pendapat ini. Jika berangkat dari pendapat tersebut, hal penting yang harus dilakukan adalah meningkatka kualitas pendidikan peningkatan kualitas pendidikan ini tentunya mencakup seluruh komponen: mulai dari pendidikan, sarana dan prasarana, hingga (mahasisiwa). Hanya dengan cara semacam inilah kita akan dapat menjadi negara yang tidak terus tergilas dalam ketertinggalan.
Namun juga harus disadar bahwa dunia pendidikan bukanlah dunia yang setatis. Dunia pendidikan adalah dunia yang senantiasa harus selalu berubah, seiring dengan dinamika perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial politik, budaya, dan teknologi. Perubahan ini harus mampu dipahami, dimaknai, dan diikuti oleh dunia pendidikan. Dalam kerangka semacam ini, maka peranan gurusangat penting. Guru sebagai pelaku pendidikan harus mempu memberikan wacana, pemahaman, dan juga kesadaran kepada para peserta didiknya tentang arti dan makna penting perubahan kearah kemajua. Hal ini penting dilakukan sebab guru memegang peranan kunci bagi kemajuan dunia pendidikan. Guru memang bukan faktor tunggal, tetapi fakta menunjukan bahwa guru adalah faktor yang sangat determinan.
Penekanan akan arti dan peran guru ini didasarkan kepada realitas yang sering kurang sesuai dengan harapan. Banyak guru yang kurang memahami arti penting kreativitas anak didik. Dalam istilah Rheinald Khasali, mereka ini adalah guru kurikulum, yaitu guru yang dalam keseluruhan aktivitas pembelajarannya diarahkan pada target kurikulum. Tidak ada ruang ekspresi, apalagi pengembangan kreativitas dalam pandangan guru kurikulum. Semua hal di orientasikan pada ayat-ayat kurikulum.
Jika ini yang terjadi, maka ada banyak beniih-benih cerdas dan mencerahkan yang harus terkubur mati. Padahal, dengan mengembangkan kreativitas berdasarkan pengalaman mereka, para guru akan menjadi manusia yang mandiri, terutama dalam menemukan gagasan dan ide yang cerdas dan mencerahkan khususnya untuk dunia pendidikan. Semestinya guru harus memberikan kemerdekaan pada peserta didiknya untuk mengembangkan potensi dan kreatifitasnya sesuai dengan kapasitasnya.
Disinilah makna penting memaknai kembali pendidikan. Selama ini praktek pendidikan cenderung melupakan dimensi yang sangat mendasar dari pendidika itu sendiri. Salah satu tujuan pendidika adalah memaksimalkan potensi manusia, membantu manusia untuk berkembang mencapai tingkat kesempurnan. Tetapi, apa pun program program pendidikan yang di jalankan, hasilnya sangat tergantng paling tidak dua hal: dasar filsafah dan metode.
Dalam kerangka kontekstualisasi pndidikan yang selaras dengan kebutuhan era sekarang ini, hal yang nampaknya mampu memberikan solusi adalah formula pendidikan yang mampu memberikan perhatian bagi kecerdasan spiritual. Dengan demikian bukan berarti formula pendidikan semacam ini sebagai satu-satunya formula pendidikan yang terbaik. Ini adalah salah satu formula yang dapat di pilih untuk di kembangkan. Tentu saja di butuhkan usaha secara terus menerus untuk menyempurnakan dan mengembangkannya. Karena dirasa saat ini aspek kecerdasan spiritual kurang mendapatkan perhatian dan apresiasi dari pemerintah. Perbincangan mengenai kecderdasan spiritual nampaknya masih hanya dal;am tararan wacana saja belum sampai menyentuh ranah praksis.
Kedua, Evolusi kesadaran. Para ilmuan sekarang tidak lagi melihat evolusi sebagai perubahan yang gradual. Perrpindahan dari tahap ke tahap yang lain sering tidak melalui tahap transisi. Palentolog Gorge Gaylord Simson menyebut dengan “ quantum evolution”. Berkali-kali terjadi lompatan besar sejak tahap inorganik, tahap biologis, sampai tahap psikososialis. Samuel Alexander, C. lioyd Morgan, C.D. Broad, joseph needham, Michael Polanyi, dan lain-lain mengembangkan teori bahwa evolusi melahirkan struktur, proses, dan hukum yang sebelumnya tidak ada. Item-item yang muncul betul-betul baru, dan bukan merupakan susunan baru dari unsur-unsur sebelumnya. Berbeda bukan saja kuantitatif, tetapi juga kualitatif.
Konsep-konsep “emergence” menyiratkan adanya tahapan-tahapan wujud. Masing-masing tahapan berjalan dengan pola dan hukum yang khas. Dengan menyebut empat tahap: pysicopicicalevent, life, mind, dan spirit (God). Alexander menyebut beberapa tahap: space, time, metter, life, mind, dan deity. Apa pun bentuk penahapan itu, semuanya menunjukan dengan sangat menarik bahwa semua wujud bergerak menuju kesempurnaan, menuju Tuhan.
Manusia pun bergerak dari wujud pisikopisik menuju wujud Tuhan. Sejarah kehidupan manusian tidak lebih dari rekaman evolusi kesadaran. Menurut Hegel, setiap tahap perkembangan manusia di naskah tetapi disimpan dalam kemajuan sejarah yang bersifat dialektik. Dalam proses dialektik ini, bentuk-bentuk kesadaran yang muncul menyerap bentu-bentuk keasadaran sebelumnya.
Pandangan tentang evolusi kesadaran mengingatkan kita pada peta perkembangan kesadaran. Pendidikan harus meletakan anak didik pada proses dialektik sejarah yang panjang ia harus dapat mengantarkan anak melalui berbagi tingkat kesadaran. Tidak boleh ada satu tahap kesadaran yang dinafikan. Salah satu diantara tahap kesadaran yang selama ini justru di kesampingkan dalam sistem pendidikan kita adalh kesadaran mistik, kesadaran akan sesuatu yang bersifat ruhaniyah. Inilah awal kecerdasan spiritual (Rkhmat, 2007: 30-34).
Ketiga, kembali kepada Tuhan. ,amusia, dalam evolusi kesadarannya, lahir pertama kali dalam bentuk bayangan yang paling gelap. Ketika kembali kepada Tuhan ia harus melewati “gap” yang merentang panjang antara kegelapan mutlak dengan cahaya mutlak. Orang memilih jalan yang berbeda-beda ada yang memiilih tetap bermain dalam bayangan , ada yang meilih berbagai macam cahay, ada yang memusatkan perhatian kepada cahaya mutlak dan tidak puas dengan yang bukan itu.
Tingkat intensitas cahaya itu tidak terbatas. Setiap tingkat menjadi setasiun Manzil. Setasiuan ada supaya orang meneruskan perjalanan kepada setasiun berikutnya. Perjalanan menuju tuhan terus berlangsung abadi.
Bila kita memilih jalan menuju cahaya, kita menambah intensitas cahaya dengan mengaktualkan nama-nama Tuhan Sang cahaya mutlak,. Nama-nama itu sebenarnya sudah tersimpan secara laten dalam fitrah kita. Mewujudkan nama-nama tuhan inilah yang disebut sebagai takhalluq bi akhlaaq Allah atau sebenarnya takhalluq di asma Allah. Implikasi dari semua ini, endidikan adalah proses menuju kesempurnaan. Proses ini tidak ada batasnya. Dalam proses takamul, manusia mempunyai potensi yang tidak terbatas. Kita semua sedang bergerak menuju Allah. Pendidikan dan yang didik adalah mitera dalm kafilah nurani yang sedang menempuh perjalanan di sahara tak terhingga. Dengan demikian, pendidikan  adalah sarana merealisasikan asma Allah dalam diri manusia (Rakhmat, 2007: 36-37).
Ada tidga kesimpulan dari tiga dasar filsafah di atas, pertama, pendidikan harus memperhatikan perpaduan antar tubuh dan jiwa. Kedua, manusia memiliki kesempurnan yang hampoir tidak ada betasnya. Ketiga, dimensi mistik dalam kehidupan manusia harus di kembalikan lagi pada situasi belajar. Karena sepanjang sejarah agama memberikan jalan sistematis untuk memperoleh pengalaman mistikal, dari ketiga kesimpulan ini, ada tiga metode yang di rumuskan kang Jalal; (1) maksimalkan pengaruh tubuh terhadap jiwa, (2) maksimalkan pengaruh jiwa terhadap proses pisikofisik dan pisikososial, dan (3) bimbingan kearah mistikal (Rakhmat, 2007: 38-39).
Dengan menilik pada konsep ini, maka pendidikan, seharudnya memberiakan keseimbangan dalam membangun epistimologisnya antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Keseimbangan semacam ini diharapkan akan dapat menjadi pijakan yang kokoh untuk membangun pendidikan yang lebih baik. Dalam konteks semacam inilah, pendidikan memperoleh pemaknaan kembali.
B.    Pendidikan Pencerahan, Sebuah Harapan

Dalam bayangan kita, sekolah memiliki misi  untuk mengembangkan pemahaman siswa yang mendalamterhadap sejumlah bidang studi inti. Sekolah akan mendorong siswa menggunakan pengetahuan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dan menyelesaikan tugas yang bakal mereka hadapi dalam masyarakat yang lebih luas- Howard Gardner.

Banyak orang yang melihat betapa rumitnya kondisi pendidikan Indonesia sekrang ini. Persoalan demi persoalan seolah begitu sulit untuk diurai. Mengatasi sebuah persoalan saja belum tuntas, sudah muncul persoalan lain. begitu seterusnya, sehingga yang terjadi kini kita kehilngan visi yang lebih menggerakan, memberdayakan, dan menjanjikan perubahan sebagaimana seperti yang diharapkan.

Selama ini masyarakat menilai bahwasanya untuk melakukan perubahan yang cukup signifikan dibutuhkan energi yang cukup besar, persiapan yang matang, biaya yang tidak kecil dan seterusnya. Dalam pandangan semacam ini, untuk merubah wajah pendidikan nasional maka yang di butuhkan adalah segala sesuatu yang bersifat besar dan spektakuler. Pandangan semscsm ini wajar adanya, namun bukan sebuah jaminan bagi kesuksesannya. Setiap usaha untuk melakuakan perubahan pasti memiliki titik kelemahan.

Berbeda dengan cara pandang semacam ini, resume buku ini menawarkan cara pandang yang bermula dari hal yang terkecil. Bahwa untuk melakukan perubahan dalam sistem pendidikan nasional seyogyanya justru dimulai dari komunitas yang terkecil, yaitu sekolah. Sebab sekolah seyogyanya adalah kunci reformasi dunia pendidikan. Dengan kesadaran untuk melakukan perbaikan pada level bawah ini, dan tentu dibutuhkan dukungan yang signifikan pada level atas, diharapkan dunia pendidikan Indonesia perlahan namun pasti bergerak menuju arah yang lebih menjanjikan. Paradigma semacam ini dimulai dari asumsi bahwasanya perubahan itu banyak yang tidak bermula dari hal-hal yang luar biasa tetapi justru berawal dari hal-hal yang biasa-biasa saja.

Satu hal yang dapat kita tarik benang merah dari asumsi di atas adalah bahwa usaha untuk memperbaiki dunia pendidikan Indonesia  seyogyanya mampu menerobos samapi akar persoalan yang ada. Usaha ini harus mampu menemukan simbol yang menandai rumitnya persoalan yang ada. Dengan menemukan akar permasalahannya, maka kemudian dapat dilakukan berbagai macam usaha untuk menghapus simbol tersebut, merestrukturisasi sistemnya, dan membangaun kembali sistem yang ada menjadi lebih baik. Dan ini dalam tataran praksisnya dimulai dari sekolah.

Perubahan semacam ini pada akhirnya yang mampu mengantarkan dunia pendidikan Indonesia dalam bergerak dan berubah menjadi pendidikan yang mencerahkan. Pendidikan pada hakekatnya akan memiliki makna yang jika mampu memberikan sesuatu yang berarti dan bermakna bagi siswa. Indikasinya bisa dilihat dari terjadinya perubahan dalam diri siswa; misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, memiliki sikap mental yang lebih kokoh, lebih kreatif dan sebagainya. Jika sekolah telah mampu memformula dalam kondisi yang semacam ini maka pada titik inilah salah satu indikator bahwa pendidikan di Indonesia telah menjelma menjadi pendidikan yang mencrahkan.


BAB II
POTRET BURAM
 PENDIDIKAN NASIONAL

A.    Sistem Parsial

“orang- orang besar tidak dilahirkan. Mereka di tempa, diukir, dan dipersiapkan oleh pendidikan yang baik”- Mohammad fauzil Adhim.

Dalam kerangka pandangan yang fungsional, pendidikan nasional telah memberikan kontribusi yang tidak bisa diabaikan. Rasanya tidak terlalu berlebihan untuk mengaatakan bahwa semua pencapaian yang sekarang ini kota nikmati adlah buah manis daridunia pendidikan.
Walaupun kontribusinya tidak bisa dinafikan, bukan berarti eksistensi pendidikan nasional sudah sempurna. Rasa berpuas diri dan memandang bahwa dunia pendidikan nasional telah sempurna merupakan bentuk kecongkakan intelektual yang berakibat buruk terhadap keberadaan dunia pendidikan sendiri. Sikap seperti ini akan menutup diri terhadap penilaian, evaluasi, apalagi kritik. Padahal, perkembangan dalam bidang kehidupan sekarang ini tengah berlangsung sedemikian cepatnya. Hal ini menuntut penyesuaian yang terus menerus dari dunia pendidilkan, merasa puas diri hanya akan menjadikan dunia pendidika enggan melakukan perubahan. Implikasainya, dunia pendidikan akan semakin tertnggal dalam dinamika perubahan yang tidak mungkin dihindari lagi. Merupakan sebuah kenaofan manakala dimensi lain terus saja terpacu menghadapi konstelasi global, sementara dunia pendidikan justru ngotot mempertahankan diri dengan format tradisionalnya.
Dari kerangka pandangan semacam ini maka ynga harus dikembangkan adalah sikap kritis terhadap dunia pendidikan. Namun demikian, sikap kritis dalam perspektif ini bukan kritis yang mengkritik segala hal yang dinilai berbeda atau tidk sesuai. Sikap kritis ini yang dimaksud adalah sikap kritis yang diposisikan secara proporsional. Jangan sampai kritisme ini dilakukan dalam kerrangka destruktif. Hanya karena kebenciam yang meluap-luap, segala hal yang dinilai tidak benar atau tidak sesuai akan di serang habis-habisan. Perspektif semacam ini biasanya selalu sibuk mencar sisi-sisi tertentu yang memiliki peluang untuk di babat habis. Padahal, cara pandang semacam ini tidak akan membuat dunia pendidikan semakin maju.sebaliknya, justru kan membuncah menjadi kebencian demi kebencian yang kan merusak jalinan relasi dan kebersamaan untuk membangun dunia pendidikan yang lebih baik.
Kritisme yang dikembangkan haruslah dilandasi oleh obyektivisme dan kerangka yang konstruktif. ketika sebuahkritik dilontarkanmaka berbagai hal harus di pertimbangkan secara cermat. Dengan cara ini maka kritisme merupakan perangkat evaluasi sekaligus alternatif solusi untuk perbaikan secara bersama-sama yang dilandasi oleh sikap yang penuh kearifan. Kritik yang ditawarkan diharapkan mampu membangun kesadaran bersama untuk melakukan perbaikan, bukan kritik yang menimbulkan kebencian dan kemarahan.
Salh satu penilaian menyebutkan bahwa sistem pendidikan Nasional bersifat parsial, tidak utuh dan tidak sistematis. Implikassi dari sistem semacam ini adalah dihasilkannya out put yang memiliki karakteristik terpecah. Paling tidak ada tiga kelompok prototipe out put pendidikan dari sistem pendidikan yang parsial tersebut. Pertama pendidikan menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual yang mampu menguasai tkhnologi yang mutakhir, namun kurang mampu memahami, menjalankan, dan menghayati terhadap nilai-nilai luhur ajaran agama ataupun hal yang berkaitan dengan norma. Banyak sudah contoh kasus yang ada mereka yang duduk di kursi-kursi perpolitikan, bisnis dan berbagi macam posisi penting lainnya malah justru melakukan tindakan-tindakan yang jauh dari nilai-nilai agama dan koridor moralitas. Korupsi, kolusi dan berbagai macam tindakan yang amoral begitu mewabah, dan pelakunya bukanlah orang-orang yang tidak pernah mengenyam dunia pendidikan, mereka adalah lulusan dari berbagai macam pendidikan tinggi, bahkan tidak sedikit yang berasal dari perguruan tinggi yang berbasis agama.
Kedua, mereka yang memiliki kemampuan intelektual yang mampu menguasai dan menghayati nilai-nilai luhur ajaran agama, akan tetapi tidak mampu menguasia tekhnologi dan dinamika politik yang ada didalamnya. Oleh karena itu, tidak jarang kelompok ini akan dijadikan sasaran yang cukup strategis bagi derap langkah kepentingan politik. Kelompok yang masuk dalam katagori ini jaranng menyadari bahwa mereka telah diperalat untuk “menjudtifikasi” berbagai macam kepentingan. Kesadaran kritis mereka lemah. Padahal watak kritis dan lemahnya kemampuan analitis menjadikan kelompok ini begitu mudah menjadikan sebagai alat untuk mencapai kepentingan tertentu.
agama, akan tetapi mampu menguasai agama, akan tetapi mereka tidak mampu menghayati nilai-nilai luhur sebagai subtansi ajaran agama. Akibatnya, muncul para ahli agama yang mumpuni secara keilmuan, tetapi mereka justru “menggadaikan” agama demi kepentingan tertentu (Nizar, 2005: 212).
Nurul Hud SA (2002: 141-143) menemukan ragam persoalan pendidikan yang melengkapi apa yang di kemukakan Nizar di atas. Beberapa persoalan yang berhasil dipetakan antara adalah: pertama, sistem pendidikan. Peningkatan SDM seperti yang termaktub dalam tujuan pendidikan yakni menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, cerdas, tangguh, kreatif, terampil, dan beretos kerja yang tinggi, dinilai sebagai hal yang terlalu ideal dan sulit untuk di wujudkan dalam sistem pendidikan seperti yang sekarang ini. Idealisme tinggi dalam tujuan pendidikan terbentur oleh sistem pendidikan yang belum mendukung untuk mencapai tujuan.
Kedua, ketidak sesuaian antar latar belakang pendidikan dengan lapangan pekerjaan. Sejarah membuktikan bahwa jenjang dan jurusan pendidikan tidak bisa menjamin terhadap perolehan lapangan pekerrjaan. Lihat saja betapa banyak orang yang bekerja dalam bidang yang tidak sesuai dengan bidang yang di pelajari, banyaknya pengangguran, bahkan tamatan S2 sekarang banyak yang kebingungan mencari pekerjaan yang sesuai.
Ketiga, dipopulasi guru idola. Pada awalnya, sosok guru laksana orang yang penuh dengan sifat kearifan, kesabaran, keteladanan dan serba tahu. Namun realitas sekarang nampaknya sudah tidak selaras lagi. memang masih banyak guru yang inspiratif, yang memiliki peranan penting dalam memberdayakan dan mengantarkan siswanya untuk menekuni jalan hidup yang lebih bermakna.guru semacam ini memiliki peran penting dalam menentukan corak hidup siswa, baik ketika sekolah maupun setelah usai menempuh jenjang pendidikan di sekolah. Namun jumlah guru semacam ini nampaknya semakin hari semakin sulit untuk di jumpai. Apa yang dominan adalah guru kurikulum, yaitu guru yang menghabiskan sebagian besar aktifitas mengajarnya untuk memenuhi apa ynag dituntut oleh kurikulum.
Di luar negri guru inspiratif dan guru kurikulum adalah guru yang dalam prakteknya tidak banyak memberikan pengetahuan dan pencerahan dalam kehidupan para siswanya. Tipe guru semacam ini sama sekali jauh dari kesan ideal. Mereka sering terlambat ketika mengajar, tidak memiliki kesiapan, lebih banyak berbicara hal-hal da luar materi yang diajarkan, suka mengancam, berperilaku tidak baik dan sejenisnya. Guru semacam ini sungguh justru menurunkan derajat guru yang sangt mulia.
Keempat, guru dan gajinya. Tugas guru jelas tidak ada duanya, paling berat diantara profesi-profesi lainnya, karena harus menyelamatkan generasi penerus umat manusia dari kebutaan, mencerdaskan bangsa, dan mewarnai keadaan bangsa dimasa yang akan datang. Tugas mulia ini nampaknya tidak seimbang dengan tingkat kesejahteraan para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Kehidupan guru banyak yang ironis. Banyak fakta-fakta memilukan yang dialami oleh para guru, ada yang gajinya dipotong karena beberapa keperluan dan hanya sebagian kecil saja yang dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Posisi guru yang semacam ini tak ubahnya seperti buruh, sedikit sekali yang membedakan antara guru dan buruh, guru di haruskan memiliki persyaratan khusus dan minimal setingkat seperti SPG atau IKIP. Sedangkan buruh tidak, asal memiliki keterampulan cukup dapat diterima menjadi buruh. Soal pola kerjanya buruh bekerja secara rutin dari hari kehari menjalani ritme yang sama, tetapi tidak dengan guru, guru harus lebih kreatif dan fariatif, agar tidak punya rasa jenuh dalam aktifitas belajar mengajar dll. Dari perbedaan antara guru dan buruh seperti di atas, itu merupakan perbedaan dalam segi mekanis saja, namun untuk hal perlakuan kesejahteraan pemerintah rasanya tidak ada beda antara guru dan buruh.
Jika di cermati secara mendetail, varian dari produk sistem pendidikan parsial ini bisa lebih banyak dan beragam. Namun secara umum, karakteristik yang ditampilkan berbentuk ketimpangan dimensi idealitas dan realistis. Kesenjangan inilah yang dalam kenyataannya menjadikan pendidikan nasional kurang sesuai dengan yang diharapokan.
Mungfkin akan muncul pandangan yang menilai behwa perspektif semacam ini tidaklah obyektif, karena faktor perilaku seseorang tidak ditentukan oleh pendidikan semata. Ada faktor sosial, ekonomi, budaya, dan juga agama. Penilaian semacam ini benar adanya. Namun demikian semestinya juga harus disadari bahwa pendidikan adalah satu faktor yang cukup detrminan dalam menentukan dinamika dan perjalanan kehidupan seseorang secara individual maupun sosial. Oleh karena itu, kalu sisitem pendidikan yang dikembangkan berkarakteristik komperhensif dan sistematis, maka berbagai kekurangan dalam sistem pendidikan yang parsial ini bisa diminimalisir. Dalam kerangka inilah, sistem pendidikan parsial ini harus di kritik, dievaluasi dan di perbaiki menjadi lebih baik.

B.     Kurikulum yang kurang mencerdaskan

aspek kunci kurikulum disini dan kini adalah bahwa  hal ini segera danggap relevan dan bermakna (oleh siswa)...... selain itu bertujuan mengajarkan kepada generasi muda kita dunia mereka dan kecakapan-kecakapan yang diperlukan dalam menyikapi dunia beserta segala sesuatu yang ada didalamnya sehingga mempersia[kan diri mereka untuk hidup di masa depan yang berubah dengan cepat” – Thomas Amstrong.

Kelemahan lainnya dalam sistem pendidikan nasional dapat kita cermati dari rekonstruksi kurikulum yang ditawarkan. Karakteristik kurikulum yang dikembangkan nampaknya kurang bersifat progresif. Rumusannya masih berkisar menjawab berbagai persoalan dalam jangka waktu 5 atau 10 tahun ke depan.
Didalam beberapa tahun terakhir ini memang telah muncul beberapa trobosan yang menggembirakan dalam aspek kurikulum ini. Namun usaha ini nampaknya masih jauh untuk mewujudkan pendidikan yang menceradskan Bangsa sebab adanya kurikulum baru justru membuahkan masalah baru. Memang kurikulum yang dibuat sesungguhnya berusaha untuk mengikuti tuntutan dan tantangan baru, tetapi subtansi, metode, strategi, dan capaian yang dilakukan masih mengikuti standar kurikulum lama, sehingga secara umum, belum banyak memberikan perubahan yang apik pada dunia pendidikan nasional.
Namun juga harus di sadari adanya tawaran baru mengenaai kurikulum ini tidak semudah itu untuk di teriama dan di aplikasikan, pada tataran tekhnis, perubahan kurikulum memang telah diikuti dan dilaksanakan oleh guru, namun hal yang sangat di sayangkan para pendidik lagi-lagi bukanlah robot yang dengan mudah di ubah cara bekerjanya, perlu adanya penyesuaian terhadap kurikulum baru tersebut, namun yang ada lagi-lagi adalah tantangan bagi para guru, belum sampai pada satukurikulum baru dipahami dan di aplikasikan, sudah muncul kurikulum baru. Tidak heran jika saat ini banyak guru yang mengajar hanya dengan niat untuk mencari penghasilan, bukan niat untuk mendidik para siswa.

C.    Ekses Negatif Media

inilah era akhir rahasia. Segala sesuatu memiliki peluang menjadilan konsumsi publik, termasuk persoalan yang paling private sekalipun” Jean Baudrillard.

Ada banyak persoalan yang dihadapi dunia pendidikan, selain persoalan intern dunia pendidikan itu sendiri. Salah satunya adalah semakin bebasnya penayangan media elektronik di era globalisasi ini yang menjadi salah satu faktor menurunnya akhlak dan moral siswa dan Mahasiswa. Untuk melihat persoalan ini tidaklah sulit, realita yang ada cukup terang untuk kita baca. Betapa banyak sudah para pelajar yang sekarang terlibat tawuran, penyalahgunaan narkoba, pergaulan seks bebas, serta tindakan-tindakan kriminal lainnya yang seharusnya para pelajar tidak ikut menjadi aktor di dunia kriminalitas tersebut.
Oleh karena itu, besarnya pengaruh media masa, terutama yang menghadirkan nuansa-nuansa yang tidak layak ditonton, menjadi tantangan besar yang harus dihadapi dunia pendidikan saat ini. Media massa dalam berbagai macam bentuknya merupakan pilar ke empat dalam proses pendidikan. Kehadirannya telah membentuk perilaku, sikap dan pola pikir anak didik. Inilah yang belakangan di sebut dengan hideden curriculum ( kurikulum yang tersembunyi), yakni beragam bentuk media yang mempengaruhi terhadap berjalannya proses pendidikan dn perkembangan pisikologis para sisiwa.
Ada beberapa paham yang ikut serta dalam media- media yang ditonton oleh anak-anak, yaitu paganisme, hedonisme, brutalisme, dan pornografi. Paham-paham tersebut secara nyata berbahaya terhadap berjalannya pendidikan dan pengajaran di sekolah, karena adanya nilai-nilai yang saling bertubrukan, yang menyebabkan hancurnya benih-benih generasi muda.

D.    Buruknya infrastruktur sekolah

“ lembaga pendidikan adalah lembaga yang yang “menjual” jasa, berupa layanan pendidikan kepada masyarakat”- Hari Sudrajat

Masih dalam pembahasan mengenai buramnya dunia pendidikan negri kita, sampai waktu ini apa yang di upayakan pemerintah masih sebatas melemparkan ide-ide abstrak yang tidak operasional, seperti pencanangan Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan (GPMP) pada tanggal 2 mei 2002 lalu, yang tidak dibarengi dengan seperangkat alat untuk merealisasikan anjuran tersebut. Kalulah ada usaha yang nyata, hal itu masih bersifat parsial dan tidak memadai, bahkan sisialisasi ide saja dirasa masih sangat kurang. Memang di sebagian besar kota besar, telah menunjukan peningkatan mutu yang cukup berarti, tetapi peningkatan mutu tersebut tidaklah secara otomatis melalui ikhtiar kebijakan pemerintah. Peningkatan mutu pendidikan lebih banyak di lakukan karena iklim kompetisi pendidikan di kota-kota besar yang berlangsing memang sangat kuat.
Sementara sebagian besar sekolah-sekolah lain yang berada di desa-desa terpencil tetap dalam kondisi yang memprihatinkan karena kurangnya perhatian pemerintah. Mereka tidak sempat memikirkan mutu pendidikan, karena masih disibukan mencari tempat untuk proses belajar mengajar, misalnya kerena gedung sekolahnya roboh. Hal ini bisa terjadi karena peran serta masyarakat, dan orang tua murid sangatlah kurang. Atau bisa juga karena pemerintah lebih sisbuk memikirkan kebijakan yang memiliki nilai polotisi lebih strategis. Sebab, semenjak dicanangkan pemilihan secara langsung, aspek pembangunan yang memperoleh perhatian secara serius adalah yang memiliki nilai strategis untuk mendongkrak citra dan mempertahankan dukungan masyarakat. Dalam bidikan kebijakan , infrastruktur pendidikan jelas kurang memiliki nilai strategis. Titik tekan pemerintah lebih kepada hal-hal yang bersifat masal, seperti pengaspalan jlan, pembangunan sarana umum, atau pemenuhan janji-janji ketika kampanye. Sehingga wajar dalam beberapa tahun terakhir, ada begitu banyak sekolah yang kondisinya merana karena tidak memperoleh perhatian dari pihak pemerintah. 
Di Indonesia aspek bungkus memang masih berpengaruh besar, masyarakat lebih melihat kepada tampilan luar dari sebuah sesuatu, oleh karena itu agar esensi dunia pendidikan mengena merupakan tugas pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat yang ada. Tugas penting pemerintah adalah membangun kondisi dan sistem pendidikan yang tidak parsial, namun tetap integral dan efektif. Untuk mewujudkan hal ini, ada hal yang dapat dilakukan antara lain adalah perbaikan dan pemerataan infrastruktur dan suprastruktur pendidikan.

E.     Kenakalan Pelajar

“tidak ada suatu pemberian yang baik yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama dari pemberian budi pekerti yang baik” – HR. Tirmidzi

Selain persoalan pornografi, menurunnya akhlak dan moralitas siswa ditandai dengan semakin meningkatnya perilaku kekerasan sesama mereka. Para pelajar yang melakuakan perkelahian sesama pelajar meningkat terus dari waktu ke waktu, belakangan kondisis seperti ini semakin memprihatinkan dengan adanya tawuran yang dilakukan oleh kalangan mahasisiwa.
Mahasiswa yang dalam sejarah memainkan peran penting terhadap perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini banyak yang justru bertindak jauh dari karakteristik intelektual. Tawuran anak kampus kini menjadi fenomena yang kian hari semakin mewabah di mana-mana. Kampus adalah lingkungan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai intelektualitas. Segala bentuk aktifitas yang berlangsung dalam kampus seyogyanya dilakukan dalam  bingkai intelektualitas. Sebab, dimensi ini merupakan karakteristik sekaligus keistimewaan kampus sebagai tempat para mahasiswa menimba ilmu.

Dalam koridor semacam ini, bukan berarti kegiatan yang dilakukan di dalam kampus harus berkaitan dengan kegiatan ilmiah murni. Civitas akademika berhak dan justru harus melakukan beragam kegiatan untuk mengaktualisasikan dan mentransformasikan keilmuan dalam sekala luas. Namun demikian nila-nilai intelektualitas harus tetap menjadi landasannya.
Mengatasi persoalan pelajar, seperti dalam bentuk tawuran, seharusnya dilakukan dengan mempertimbangkan seluruh aspek yang berkaitan secara komperhensif. Sebab, tawuran tidak hanya terkait dengan dendam diantarab murid, atau dendam murid antar sekolah saja, tetapi juga berkaitan dengan adanya kesempatan, lingkungan sosial, pendidikan agama, dan sebaginya.
Sebelum memutuskan solusianya, langkah bijak yang seharusnya diambil adalah meneliti secara obyektif terhadap faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. Dalam bingkai analisa para ahli pendidikan, kenakalan pelajar memiliki faktor penyebab yang beragam. Diantaranya adalah jam kosong pada saat proses belajar mengajar. Waktu kosong membuka kesempatan kepada pelajar untuk melakukan berbagai aktifitas yang konstruktif. Namun tidak jarang, waktu kosong justru menjadikan kesempatan para siswa untuk melakukan kegiatan yng bersifat destruktif.
Diakui atau tidak jika kita telisik lebih jauh, akar budaya kekrasan sesungguhnya berawal dari keluarga, perlakuan-perlakuan mengajar orang tua kepada anaknya terkadang menyisakan kekerasan yang tersimpan erat didalam memori anak. Yang mengakibatkan terganggunya perkembangan pisikologi anak, hanya karena maslah sepele terkadang orang tua membentak-bentak anaknya sembari mengeluarkan kata-kata yang tidak layak didengar oleh seorang anak, terlebih orang tua yang menggunakan tindakan menjewere, menampar, dan tindakan-tindakan kekerasan lainnya. Hal inilah yang kemudian secara langsung menjadikan jiwa seorang anak menjadi keras dan sangat cepat menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekerasan dengan tolak ukur menang atau kalah ketika dewasanya.
Memang tidak semua keluarga melakukan hal seperti demikian, namun hampir mayoritas keluarga di Indonesia masih menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anaknya. Dalam kehidupan yang semakin modern dan penuh tantangan seperti sekarang ini, memberikan pengajaran agama secara baik kepada anak menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa di elakan. Hanya dengan agamalah manusia akan dibimbing dalam menjalani kehidupan yang terus berubah. Sepirit semcam inilah yang juga disampaikan oleh sahabat ali bin abi thalib kepada anak-anaknya:
“ku pesankan kepada kalian berdua agar selalu bertakwa kepada Allah Swt. Dan jangan menginginkan dunia ini walaupun ia menginginkan kalian. Jangan menyesali sesuatu dari kenikmatannya yang dijauhkan dari kalian. Berbicaralah demi kebenaran. Beramallah agar mendapatkan ganjaran. Jadikan kalian selalu lawan dari si zhalimdan kawan dari si mazhlum (orang yang di nzhalimi atau yang teraniaya).
Aku berpesan kepada kalian dan segenap anak cucu serta keluargaku dan siapa saja yang sampai kepadanya pesanku ini, agar berpegang teguh dengan ikatan ketakwaan kepada Allah Swt, mengatur baik-baik segala urusanmu bersama dan selalu mengusahakan perbaikan hubungan silaturrahmi antara kamu dan semua”.

Coba hayati pesan Sayyidina Ali di atas. Pesan tersebut kelihatan seerhana, tetapi sesungguhnya sarat akan makna yang mendalam. Dan banyak nasehat-nasehat dari hadits-hadits Rosulullah Saw berupa penyaru kepada umat untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt, seruan untuk senantiasa saling menghormati satu sama lainnya dll. Dalam kaitan inilah, menarik untuk menyimak kata-kata dari Mohammad Fauzi Adhim. “Harus kita siapkan pendidikan mereka dengan pendidikan yang menghidupkan jiwa, menguatkan tekad, membengkitkan hasrat untuk berbuat baik, dan menempa sikap mental yang unggul untuk menentukan wajah masa depan dunia. Bukan hanya mesa depan mereka: (Adhim, 2008: 11). Tentu saja kita sepakat hal tersebut akan mampu teraplikasikan ketika seorang anak telah di tanami benih-benih sedemikian dari umur balita sampai ia mampu menemukan jiwanya.

F.     Nalar Egoisme

“untuk meraih hal hebat, kita tidak hanya harus bertindak, tetapi juga bermimpi. Tidak hanya berencana, tetapi juga punya keyakinan”- Anatole france.

Siapa yang paling menentukan terhadap sekolah seorang anak? Hampir jawaban yang dominan adalah orang tua. Ya, orang tua adalah pihak yang paling menentukan terhadap jenis sekolah dan pilihan jurusan anak. Memang ada orang tua yang memberikan kebebasan kepada anak untuk menentuakan sekoalah buat si buah hati, tetapi kebanyakan pilihan tersebut juga masih dalam pantuan oranga tua. Atau kalau tidak, pilihan itu diberikan terpaksa karena si anak memang memaksanya.
Orang tua memang pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kehidupan anaknya, termasuk dalam hal pendidikan. Dari sinilah orang tua kemudian menjadi pihak yang sangat menentukan masa depan anaknya terutama dalam hal pemilihan sekolah, tentu diskusi antara si anak dengan orang tua dalam menetukan pilihan sekolah. Sehingga terciptalah peran orang tua yang efektif dan mengukuhkan pengembangan potensi pada anaknya, karena si anak akan merasakan menemukan kehangatan di dalam keluarganya dan itu akan menjadi teladan si anak sampai pada waktunya ia menurunkan teladan tersebut kepada keluarganya kelak.

G.    Masyarakat mabuk gelar

“ apa saja yang dikomersialkan pasti turun mutunya”- jalaludin rakhmat

Sebuag gelar akademis memang memiliki makna yang sangat penting di ranah sosial. Gelar tersebut mencerminkan kapasitas dan kualitas yang selaras dengan pemiliknya. Kalau di belakangnama seseorang ada gelar ‘SH’ misalnya, maka bukan salah jika pemiliknya adalah orang yang diasumsikan oleh masyarakat sebagai orang yang menguasai hal ikhwal dan seluk-beluk dalam bidang hukum. Demikian dengan gelar-gelar lainnya yang melekat di depan ataupun di belakang nama seseorang.
Kompetensis seseorang akan semakain lengkap manakaala deretan gelarnya juga semakin panjang. Hal ini menunjukan bahwa pemiliknya adalah seseorang yang dalam kehidupannya hobi sekolah. Tetapi nampaknya kebanggan terhadap gelar kini mengalami  degradasi. Gelar yang melekat belum tentu menjamin pemilikanya memiliaki kompetensi yang sesuai dengan gelar yang menyertai di belakang namanya. Sangat mingkin gelar tersebut hanyalah sebuah kebanggaan, namun tidak memiliki makna. Atau digunakan sebagai alat komersialisasi gelar untuk melakukan pembodohan terhadap masyarakat.
Hal ini bisa saja terjadi dengan perantara adanya kampus-kampus instan yang sekarang sangat gencar merekrut mahasiswa dengan berbagai macam jurusan yang ditawarkan. Yang akaibatnya adalah menghasilkan lulusan yang setengah matang. Kondisi yang lebih parah lagi adalah adanya praktek jual beli gelar, dalam hal ini peminat tinggal pilih gelar apa yang akan di ikut sertakan di belakang namanya, tanpa adanya proses akademis, sungguh sangat ironis. Cara berpikir yang mengedepankan jalan pintas nampaknya telah menjadi begian yang erat dalam kehidupan masyarakat kita, sedangkan sangat sedikit yang masih mempertahankan iklim idealis.


BAB III
LANGKAH-LANGKAH
PENCERAHAN
A.    Apatisme dan paradigma kritis
“ pendidikan tengah diuji untuk memberikan jawaban yang menyulitkan, yakni antara melegitimasi atau melenggengkan sistem dan struktur sosial yang ada, ataupun pendidikan harus berperan kritis dalam melakukan peerubahan sosial dan transformasi menuju dunia yang lebih adail”- Paman Mansour Fakih

Kecewa terhadap dunia pendidikan nampaknya menjadi sesuatu yang kian biasa saja. Biaya pendidikan yang semakain mencekik, tersingkirnya siswa yang berpotensi gara-gara kompetisi satu potensi yang di seragamkan, semakin menurunnya minat menuntut ilmu di lingkungan sekolah dll. Sikap kekecewaan dan apatis terhadap dunia sekolah tampaknya belum memperoleh perhatian yang memadai, terutama dari para pemegang kebijakan pendidikan. Mereka nampaknya masih sibuk dengan agenda kerja yang lebih menguntungkan secara materi. Beruntung bagi mereka yang keluar dari sekolah kemudian menemukan titik pijak yang kreatif, dengan kemampuan kreatifnya kemudian dapat menjadi orang yang sukses sesuai dengan bidang yang ditekubinya. Persoalannya, berapa persen dari lulusan sekolah yang mampu seperti ini? Optimalisasi peotensi kreatif tidak pernah menjadi agenda yang serius untuk dikembangkan dalam iklim sekolah.
Jika potensi masyarakat terus menerus di pangkas maka ynga terjadi adlah timbulnya pemikiran pendidikan dengan paredigma kritis radikal, seperti halnya Darmaningtiyas yang di ilhami oleh pemikir besar pendidikan seperti pemikiran Ivan Illich yang menggagas “ masyarakat bebas sekolah” (descholing society).” Sekolah itu lebih bahaya dari nuklir,” kata Illich.”ia adalah candu! Bebaskan masyarakat dari sekolah”. Melihat konteks kelahiran pikiran-pikiran dengan paradigma kritis radikal sebenarnya cukup realistis. Gagasan yang mencuat bukan asal tampil untuk nyleneh, tetapi juga dilandasi oleh pembacaan yang intensif terhadap fakta yang menjadi latar belakangnya. Dalam pandangan Illich, saat itu semua sekolah di berbagai negara tengah terjebak pada semangat berpikir kepada tuntutan-tuntutan kebutuhan sekolah. Implikasi atas kondisi ini adalah lahirnya suatu corak pendidikan yang hanya menjadi agen produksi sistem dan struktur sosial yang tidak adil, seperrti penindasan, relasi kekuasaan, ketimpangan gender, dan sebagainya.
Ivan Illich tidak sendirian. Ada banyak pemikiran yang berada dalam arus yang sama. Mereka antara lain Franz Fanon, Antonio Gramsci, Ira shor, dan yang paling fenomenal adalah Paulo Freire yang pemikirannya memperoleh apresiasi paling luas di Indonesia. Pemikiran Freire terinspirasi oleh kondisi rakyat Brazil yang ketika itu hidup dalam kondisi terpasung dan tertindas. Tidak ada kebebasan dan kemerdekaan yang dapat dinikmati oleh mereka. Dalam analisanya Freire menyimpulkan bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah sistem pendidikan tradisyonal Brazil dengan “ gaya bank-nya ”. ia mengkritik pendidikan gaya bank sebagai cermin dari kondisi masyarakat yang tertindas secara keseluruhan. Dengan bentuk-bentuk kontradiksi sitem pendidikannya adalah;
1.      Guru mengajar, murid diajar
2.      Guru mengetahui se3gala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa
3.      Guru bercerita, murid patuh mendengarekan
4.      Guru berfikir, murid difikirkan
5.      Guru menentukan peraturan, murid diatur dll.
Dan kesemuanya itu seolah-olah murid hanya dijadikan obyek yang sangat kosong tanpa isi dan tidak adanya proses diskusi, sehingga harus di isi oleh guru yang dalam proses belajar mengajar dianggap paling pintar dan paling benar. konsep pendidikan yang penuh kontradiksi sebagaimana yang digambarkan freire ini mungkin disadari atau tidak telah menjadi bagian dalam praktek pendidikan kita, yang imbasnya sekarang adalah terbunuhnya karakter muda-mudi, dan budaya yang timbul adalah budaya bisu (culture of silent). Hal ini akan terus berlangsung jika tidak di fahami dan di sadari oleh semua kalangan pendidik, dan dari hari ke hari yang ada adalah pembunuhan karakter anak manusia. Frire sangat mendambakan terbentuknya manusia yang utuh, yaitu manusia yang berada pada posisi subyek, bukan obyek. Manusia yang tidak hanya mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar, tetapi mampu memberikan warna dan bila perlu bisa mengubah jika memang harus ada yang diubah. Karena menyesuaikan diri adalah perilaku binatang, yang apabila diperhatikan oleh manusia merupakan gejala dehumanisasi. Manusi jelas berbeda dengan binatang, ia ada bersama dunia dan mempunyai kemampuan untuk merubahnya (freire, 1985: 66).
Menurut pandangan paulo freire, manusia tidaklah menjadi benar-benar manusiawi, tanpa praksis dan tanpa usaha mencari. Padahal pengetahuan hanya lahir melalui usaha penemuan dan penemuan ulang dengan usaha pencarian terus menerus, sabar, penuh harapan di dunia, dengan dunia, dan bersama orang lain. pendudukan yang membebaskan terletak pada usahanya kearah rekonsiliasi. Pendidikan harus dimulai dengan pemecahan masalah (problem solving) kontradiksi antara guru-murid tersebut, dengan merujuk pada kutub-kutub konteradiksi tersebut, sehingga kedua-duanya secara bersama-sama menjadi guru dan murid. Namun pendidikan gaya bank tidak akan memecahkan masalah kontradiksi tersebut. Bahkan akan memepertajam kontradiksi itu dengan kebiasaan-kebiasaan yang mempertentangkan antara guru danmurid ( 1985: 69).
Pemikiran freire tersebut selanjutnya dielaborasikan lebih lanjut oleh H.A.R Tilaar. Menurut Tilaar, pembebasan dalam pendidikan pada hakekatnya adalah  pemberdayaan anak didik, pemberdayaan dan demokratisasi praksis pendidikan (demokratic education). Pendidikan adalah usaha untuk memberdayakan manusia. Manusia yang berdaya adalah manusia yang dapat berfikir kreatif, mandiri, dan produktif yang mampu membangun diri dan masyarakat. Pendidikan kita selama ini hanya menghasilkan manusi-manusia robot dan hanya bisa menerima petunjuk dan pengarahan dari atasan (yang berbentuk juklak-juknis). Hasil pendidikan kita bukanlah manusia-manusia berdaya tetapi justru diberdayakan oleh sistem yang otoriter (1998: 55).
Yang sangat disayangkan dosen-dosen pendidik yang jiwanya masih muda tidak bisa membaca pemikiran-pemikiran kaum tua dan membaca pemikiran kaum muda, yang jika bisa membaca hal tersebut pastilah bisa menyimpulkan metode mengajar seperti apa yang harus di aplikasikan, terlebih itu adalah dosen yang mengampu mata kuliah pendidikan dan mengajar di fakultas yang berbasis keguruan. Tentang potret buram pendidikan di Indonesia hampir mayoritas mahasiswa tentunya sudah pernah melihat, bahkan mengalami, sangat kurang efektif kiranya jika dosen pendidikan yang mengetahui keidealan dunia pendidikan hanya memaparkan hal-hal yang bersifat hayalan semata. Harin ini mimpi untuk hari esok, dan mimpi kemaren di realisasikan hari ini, bukan malah mengajak mahasiswa untuk hanya bermimpi, tapi alangkah baiknya mahasiswa setelah di paparkan potret buram pendidikan Indonesia kemudian mahasiswa diberikan ramuan-ramuan yang bersifat menyadarkan agar mampu memperkokoh jiwanya (idealism) sehingga setelah mahasiswa keguruan telah turun di dunia praksis dan menjadi tokoh di dalamnya, dia tidak mudah terjual idealismenya dan terpenjara didalam sistem yang menindas di masa mudanya, kemudian keilmuannya di tambah untuk mampu bersaing di dunia masa depan yang jelas di tatapan semua manusia bahwa hari esok kehidupan akan lebih menantang.
Pendidikan sementara ini masih terasingkan dari kehidupan kebudayaan dalam arti luas. Pendidikan semata-mata hanya menjadi alat kekuasaan beberapa gelintir orang atau elit penguasa. Pendidikan seharusnya merupakan suatu proses pemberdayaan. Dalam perspektif ini, hal esensial yang harus dikembangkan adalah bagaimana pendidikan diarahkan untuk menghasilkan anak didik menjadi manusia yang berbudaya (civilized human being) yang diarahkan kepada  berkembangnya kepribadian seseorang yang mandiri sebagai anggota masyarakat yang demokratis.  Konstruksi pendidilan semacam ini diharapkan akan menghasilkan produk yang akuntabilitasnya tinggi dari masyarakat, dan ditangani oleh masyarakat (comunity besede menegement). Pedagogik pembebasan pada hakekatnya adalh proses pemberdayaan generasi bangsa, masyarakat dan negara, yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi berkembangnya pribadi-pribadi yang bebas, yang mengenal kata hati dan nilai kemanusaiaan serta bebas dari segala bentuk penindasan (oppressive), baik secara ekonomis, politis, maupun praksis.
Penyelenggaraan pendidikan yang masih bersifat birokratik-sentralistik harus dirubah menjadi desentralisasi pendidikan, yang dilakukan secara konsekuen dengan memenuhi kebutuhan yang diperlukan, baik perangkat lunak maupun perangkat luas (soft ware-dard ware). Misalnya dengan dikeluarkannya undang-undang nomor 22 dan 25 tahun 1999 tentang otonomi daerah yang langsung berpengaruh terhadap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan. Implikasi otonomi daerah adalah otonomi pendidikan, sehingga tanggung jawab dan kewenangan pendidikan pendidikan terletak pada pemerintah daerah atau kabupeten. Otonomi yang diberikan hendaknya tidak setengah-setengah, karena penyelenggaraan pendidikan bukanlah pekerjaan yang mudah. Pemerintah harus konsekuen terhadap akibat kebijakan tersebut, dengan memotivasi meningkatnya seluruh aspek yang ada dalam sistem pendidikan, seperti menyediakan dana yang memadai secara riil,” bukan sekedar prosentase yang tinggi dari APBN/ APBD tetapi realisasinya tidak ada” dan meningkatkan profesionalitas pendidikan yang  atau guru dan kepala sekolah.
Pendidikan semacam inilah yang dibutuhkan sekarang, karena model pendidikann tersebut mampu menempatkan manusia pada posisi sentral dalam setiap perubahan yang terjadi dan mampu pula mengarahkan serta mengendalikan perubahan-perubahan itu. Freire mencela jenis pendidikan yang memaksa manusia menyerah kepada keputusan-keputusan orang lain. pendidikan yang ditawarkan adalah pendidikan yang dapat menolong manusia untuk meningkatkan sikap kritis terhadap dunia dan mampu mengubahnya.
Kritik-kritik darin freire dan para pemikiran kritis lainnya yang kemudian melatari gagasan mengenai urgensi pendidikan kritis. Dalam perspektif para pemikir kritis tersebut, pendidikan kritis pada dasarnya merupakan aliran atau paham dalam pendidikan dengan titik tekan pada peroses pemberdayaan dan pembebasan. Ketika konsep pendidikan kritis diturunkan dalam kerangka praksis, metode ideal untuk mewujudkan pendidikan kritis adalah metode andragogi. Metode andragogi menempatkan siswa sebagai posisi subyek dari suatu sistem pendidikan. Dalam posisi ini, murid digambarkan sebagai seorang dewasa yang memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah, memiliki bahan, menyimpulkan, mampu mengambil manfaat, memikirkan cara yang baik untuk belajar serta berbagai peran-peran transformatif lainnya. Fungi guru adalah fasilitator, bukan untuk menggurui. Oleh karena itu, relasi antara guru dan murid bersifat multicommunication.
Tentunya harus di ingat bahwa pemikiran kritispun masih mampu dikritisi sehingga bukan berarti pemikiran para tokoh tersebut dapat diintrodusir mentah-mentah kedalam sistem pendidikan Indonesia. Melakukan dekonstruksi dengan mengintrodusir secara total dari setiap gagasan kritis sama nasibnya dengan menyerahkan terjebak dalam kemelut tak berkesudahan. Ada banyak ketidaksamaan terhadap kultur sosial dan budaya dari para pencetus pemikiran kritis tersebut. Barangkali langkah yang bijak adalah melakukan rekonstruksi dengan menjadikan menjadikan gagasan-gagasan kritis yang ada sebagai bagian dari pertimbangan untuk menyongsong kebangkitan pendidikan Indonesia. Dengan demikian, apa yang ditawarkan dari para pemikir kritis tersebut dijadikan sebagai bahan, atau mungkin perspektif, untuk kemudian dikontekstualkan dengan realitas yang selaras dengan potret dunia pendidikan di Indonesia.
Contoh formula rekonstruksi yang berbasis dari konsep pendidikan kritis ini dirumuskan dengan sangat menarik oleh A. Chaider Alwasilah. Tidak hanya berhenti pada tataran konsep semata, Alwasilah membangun sebuah rumusan yang sisebut “delapan dalail kritical pedagogy” berikut contoh implikasinya dalam konteks pengajaran bahasa inggris di Indonesia. Delapan dalil tersebut adalah:  pertama, pendidikan memproduksi bukan hanya mengetahuai tetapi juga politik. Mata-mata pelajaran, dengan kata lain, tidak hanya mewariskan ilmu pengetahuan, fakta atu dalil yang ditarik dari pengamatan alam fisik atau alam sosial, tetapi juga harus menanamkan pada siswa kesadaran akan hak-hak politiknya, sebagai warga negara. Artinya, guru bahasa inggrid, misalnya, berkewajiban nukan hanya mengajarkan to have dan to be; is; am; are sampai dengan alinea yang logis, berterima dan komunikatif, tetapi juga berkewajiban berakrobat sim salabim kultural dan kurikuler untuk mentransformasi siswa menjadi masyarakat yang sadar politik. Ini tidak berarti melatih siswa SMP dan SMA (juga tidak mahasiswa) menjadi politisi seperti anggota aktif suatu partai politik yang terpenting adalah menanamkan pada siswa sikap politik yang demokratis. Untuk menjadi warganegara yang demokratis, mereka tidak hanya mnjadi politikus. Sadar akan hak dan kewajiban di sekolah sesungguhnya merupakan pendidikan politik yang membumi. Dengan kata lain, guru bahasa adalah guru sekaligus pendekar literasi politik, bukan sekedar literasi baca dan tulis saja.
Kedua, etika seyogyanya difahami sebagai sentralnya pendidikan. Guru mengajarkan bukan hanya pengetahuan dan ketrampilan bahasa tetapi mengajarkan apa yang benar dan tidak benar. ada anggapan bahwa etika merupakan garapan guru agama, budi pekerti, atau ilmu sosial lainnya. Konsep dasar linguistik ihwal dikotomi deskriptif-perspektif, berterima tak berterima, dan gramatik-takgramatik sebernanya juga berlaku dikehidupan sehari-hari. Kemampuan berbahasa berarti kepandaian menggunakan bahasa yang bukan saja benar secara gramatik,  tetapi juga berterima secara sosial. Inilah gambaran secara dinamis dan fungsional antara teks dan konteks atau antara sisi mikro dan sisi makro dari dua uang logam yang bernama sosiolinguistik.
Ketiga, pendidikan bertoleransi terhadap perbedaan-perbedaan pada siswa dan gueu dalam aspek-aspek ras, etnis, bahasa, gender; dalil yang sungguh senapas dengan Bineka Tunggal Ika. Pendidikan bahasa dan pendidikan pada umumnya seyogyanya mengakui dan memvalidasi eksistensi perbedaan- perbedaan itu semakin tipis dan mudah di pahami. Pendidikan secaran objektif dan demokratis membentangkan persamaan atu benang merah kultural sebagai perekat kesatuan dan kebersanmaan kultural.
Keempat, kurikulum tidak boleh dimaknai sebagai teks suci yang mengharamkan munculnya interpretasi dan perbedaan-perbedaan pada pihak pelaksanaannya. Alih-alih kurikulum seyogyanya diubah diubah menjadi arena dimana ayat-ayat ilmu pengetahuan ditantang dan dipertanyakan secara lugas, bebas,akademik, demokratik, dan sinambung. Dalam keilmuan justru keraguan atas kebenaran yang menimbulkan ilmu baru dan inofasi. Sebaliknya, sikap nrimo  sebagai cerminan rendahnya daya nalar dan kreativitas adalah biang keladi dari kejumudan iptek.
Kelima, pendidikan seyogyanya bukan hanya mengritisi bentuk-bentuk ilmu pengetahuan yang ada, tetapi meronta-ronta mencari, merumuskan dan akhirnya menawarkan bentuk-bentuk baru dari ilmu-ilmu pengetahuan. Artinya, pendidikan bukan sekedar memprtahankan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada, tetapi justru menghasilkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan baru.
Keenam, pendidikan seyogyanya mereformulasi apa yang selama ini diklaim sebagai kebenaran, demi mendapatkan versi dan interpretasi yang lebih parsial dan khusus dari ilmu pengetahuan, teknologi, kebenaran, dan alasan, serta kebernalaran. Salah satu upaya untuk menemukan versi dan interpretasi baru ini adalah dengan melakukan sinergi antara berbagai disiplin ilmu, semisal sinergi antara linguistik dengan sosiologi, antropologi, matematika, psikologi, politik, ekonomi, statistik, dan agama. Sudut pandang yang warna- warni ini akan menyemarakkan kebenaran saintifik (sementar) dan dengan sendirinya mereformulasikannya dalam wujud kebenaran alternatif untuk dikritisi.
Ketujuh, pendidikan mesti mewadahi bukan hanya wacana untuk mengritisi apa yang mapan, tetapi juga menawarkan visi demi masa depan mendatang yang lebih baik yang diperjuangkan tanpa mengenal lelah.
Dan kedelapan, para guru bahasa seyogyanya melihat dirinya, seperti kata Henry A. Giroux, sebagai transformative intelectial, yakni intelektual yang mempunyai komitmen perkasa untuk melakukan transformasi sosial demi perbaikan. Guru tidak boleh disepelekan dengan menganggapnya sebagai teknisi di kelas bahasa, yakni abdi dalem para penguasa, khususnya birokrat pendidikan yang senantiasa harus patuh terhadap ayat-ayat kurikulum sebagai teks suci (2008: 110-112).
B.     Membangun mentalitas climbers

“karya agung bukan dihasilkan dengan kekuatan, melainkan dengan ketekunan”
-samuel jhonson
Salah satu aspek yang seharusnya senantiasa dilakukan dalam dunia pendidikan adalah melakukanj evaluasi dan perbaikan secara terus menerus atas aspek pendidikan yang telah dilakukan. Langkah ini penting agar dunia pendidikan tidak statis, dan hanya bergelut dengan aspek-aspek yang bersifat rutinitas. Selalu muncul ide baru, inovasi, dan usaha yang bersifat progresif. Dengan cara semacam ini, dunia pendidikan akan selalu dinamis, berkembang, dan terus bergerak ke arah kemajuan.
Nampaknya, aspek ini kurang memperoleh pendidikan perhatian secara serius dari pihak-pihak terkait dalam dunia pendidikan. Hal ini dapat kita cermati dari fenomena semakin banyaknya warga masyarakat yang mencari alternatif pendidikan di luar negri. Arus peminat pendidikan keluar negri yang terus meningkat dari waktu kewaktu seyogyanya dilihat secara obyektif. Pada satu sisi, fenomena ini merupakan bagian dari arus besar globalisasi yang memamng tidak bisa untuk dihindari. Semakin banyak yang menuntut ilmu ke luar negri akan semakin memperkaya khasanah intelektual dan diharapkan akan semakin meningkatkan sumberdaya manusia. Namun di sisi lain, fenomena ini sesungguhnya merupakan bentuk kekurang percayaan terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Kalau saja rasa percaya terhadap dunia pendidikan cukup tinggi, tentu pilihan pertama akan jatuh ke lembaga pendidikan dalam negri, sehingga tidak perlu jauh-jauh belajar keluar negri dengan mengorbankan banyak hal, terutama waktu dan biaya.
Satu aspek yang nampaknya kurang mendapatkan perhatian dalam dunia pendidikan Indonesia adalah aspek mentalitas siswa. Sekolah selama ini terlalu disibukan dengan aspek pengajaran, sehingga aspek yang lebih mendasar seperti mentalitas siswa jarang tersentuh. Titik tekan pada aspek kognitif yang diukur dari kemampuan menguasai mata pelajaran yang diujikan secara nasional, menjadikan konsentrasi pihak sekolah lebih didominasi oleh upaya untuk bagaimana para siswanya dapat lulus ujian. Kelulusan siswa dalam ujian nampaknya menjadi tolak ukur sekaligus harga diri sebuah sekolah. Olehg karena itu, merupakan yang wajar jika berbagai upaya dilakukan oleh pihak sekolah agar tidak ada siswa yang tidak lulus. Tidak lulus merupakan image buruk bagi siswa dan juga pihak sekolah.
Dalam kerangka semacam ini, wajar jika dimensi mentalitas tidak memperoleh perhatian secara memadai. Padahal, dimensi ini memiliki peran yang sangat menentukan dalam mental siswa. Tidak hanya ketika mereka masih sekolah, tetapi yang jauh lebih penting adalah ketika mereka menapaki jenjang kehidupan yang panjang setelah keluar dari  bangku pendidikan.
Lemahnya mentalitas ini bisa dilihat dari realitas di masyarakat di mana sebagian besar para lulusan sekolah maupun perguruan tinggi secara umum kurang memiliki mental yang kokoh, bagi lulusan sekolah orientasi utama mereka adalah menjadi seorang kuli, sedangkan mahasiswa yang telah wisuda kebingungan mau di jual kemana ijasah mereka. Padahal dengan mentalitas yang kokoh, para siswa akan memiliki karakteristik pribadi yang tidak kenal menyerah, terus berjuang berdasarkan basis moralitas dan spiritualitas, dan senantiasa berusaha menjadi manusia yang berguna.
Pada dasarnya, setiap manusia memiliki mentalitas yang kuat untuk meraih keberhasilan. Coba kita simak dan refleksikan kembali bagaimana seorang bayi tumbuh dan berkembang. Ketika mulai belajar berdiri, tidak terhitung berapa kali harus terjatuh. Tetapi tidak ada rasa kapok. Ia terus berusaha sendiri, walaupun harus jatuh kembali. Seiring kegigigannya, si bayi akhirnya bisa berdiri, walaupun pada awalnya gontai dan masih juga sering jatuh. Ketika menginjak usia satu tahun, si bayi mulailah belajar berjalan sampai akhirnya dapat berjalan lancar.
Namun sangat disayangkan seiring pertumbuhan dan semakin bertambahnya usia, konsep kegagalan mulai merasuk dan membatasi keberaniannya hal ini di dapat dari hasil interaksi dengan lingkungan yang sering kali memaksanya untuk menyerah. Disinai peran orang tua dan lingkungan cukup menentuaka. Seringkali cara mendidik orang tua yang terlalu sayang kepada anak tanpa dissadari akan menanamkan konsep kegagalan kedalam diri seorang anak. Lihat saja bagaimana seringkali terdengar kata “jangan” meluncur dengan cepatnya dari orang tua tanpa difikirkan dampaknya lebih jauh. Belum lagi menyalahkan pihak lain untuk melindungi si anak dari apa yang dilakukan. Ketika seorang anak jatuh, maka kodok yang dijadikan kambing hitam. Akibatnya, konsep kegagalan secara tidak langsung hadior dan menjadi bagian dari kesadaran anak.
Ketika memasuki jenjang pendidikan, guru pun sering melakukan hal yang sama. Mentalitas tokoh yang seharusnya dibangun justru semakin digerogoti lewat perlakuan yang membuat mereka minder. Dalam berbagi kasus, ada banyak guru melemparkan sebuah pertanyaan misalnya, dan kita mengacungkan tangan, lalu menjawab dan jawaban kita salah, komentar guru lebih sering menciutkan nyali kita. “ jawaban kamu salah”, adalah komentar yang gampang keluar dari guru. Mendengar komentar semacam ini, rasa malu hampir pasti menghinggapi perasaan. Maka, nyalipun menciut. Tidak hanya pada siswa yang berani menjawab tetapi juga pada yang lainnya. Mungkin sebagian siswa ada yang tau akan jawaban dari pertanyaan guru tersebut, tetapi karena takut salah, mereka pun urung mengacungkan jari.
Orang tua dan sekolah, dalam kenyataannya, tanpa sadar membangun ketakutan terhadap kegagalan. Padahal kegagalan adalah pintu penting untuk meraih kesuksesan. Kesuksesan dalam bidang apapun tidak muncul begitu saja. Untuk meraih kesuksesan, dibutuhkan perjuangan secara terus menerus. Sebagaimana seorang bayi yang belajar berjalan, demikian juga hakekat kesuksesan. Dalam buku yang ditulis Paul G. Stoltz (2007:17-37) menyebutkan bahwa hidup manusia dapat diibaratkan dengan usaha mendaki gunung. Yang dalam pandangan Stoltz manusia akan secara otomatis membagi manusia ke dalam bebrapa kriteria. Pertama, Mereka yang berhenti (Quitters) mereka yang dalam katagori ini menjalani kehidupan yang tidak terlalu menyenangkan. Mereka meninggalkan impian-impian dan lebih memilih jalan yang datar dan lebih mudah, ironisnya kebanyakan Quitters sering menjumpai jalan yang buntu karena tidak memilih untuk mendaki. Dan saat yang paling memilukan ketika mereka menoleh ke belakang dan melihat bahwa kehidupan yang dijalani ternyata tidak menyenangkan.
Sebagai akibatnya Quitters dalam menjalani kehidupan menjadi sinis, murung, dan mati perasaannya. Atau mereka akan menjadi pemarah dan frustasi, menyalahkan orang-orang yang ada disekelilingnya dan membenci orang-orang yang dalam kehidupannya terus mendaki dan menuai hasil dari ciripayahnya. Ketika menghadapi tantangan, kata yang sering keluar dari mulut seorang Quiters menurut Stoltz, antara lain , “tidak bisa”, “tidak dapat”, “mustahil”,” kami sudah berusaha”,” saya bisa kalau saya mau”,” dan bahasa-bahasa pasif lainnya.
Kelompok kedua, menurut Stoltz mereka yang berkemah (campers). Berbeda dengan kelompok Quitters, kelompok cempers telah melakukan perjalanan mendaki, namun mereka pergi tidak seberapa jauh. Karena bosan, mereka mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat datar yang rata dan myaman sebagai tempat bersembunyi dari situasi yang tidak bersahabat, mereka memilih untuk menghabiskan sisa-sisa hidup dengan duduk disitu. kelompok Campers memang satu tingkat diatas Quitters karena Campers telah berhasil mencapai tempat perkemahan. Namun sebenarnya Campers memiliki kelemahan, terutama pada mentalitasnya untuk berhenti mendaki, padahal kelompok ini memiliki kekuatan untuk terus mendaki, namun karena sudah merasa aman di step ini maka kelompok ini pun lebih sering memilih untuk bertahan. Berkaitan dengan tantangan yang dihadapi, campers akan menggunakan beberapa nada kompromi seperti, “ini sudah cukup bagus”,” apa syarat minimumnya untuk melakukan hal itu”,” kita hanya perlu sampai cukup disini saja”,” ah nanti saya gagal” dan kata lain sejenisnya. Oleh karena itu para campers tidak pernah mencapai prestasi puncak.
Kategori ketiga  adalah Climbers. Kelomkpok ketiga ini membaktikan dirinya seumur hidup dalam pendidikan. Tanpa menghiraukan latar belakang, keuntungan dan kerugian, nasib buruk atau nasib baik, dia terus mendaki. Climbers adalha pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan, dan tidak pernah membiarkan umur, jenis kelamin, ras, atu hambatan lainnya menghalangi pendakiannya. Mereka melakukan semua ini dengan memahami tujuannya dan bisa merasakan gairahnya. (awak iki bakal rusak, di nggo berjuang, rusak ra dinggo berjuang yo rusak, mulo luweh apik dinggo berjuang ben ono manfaate).


C.    Memupuk Budaya Membaca


Pendidikan kita tidak menganjurkan bagaimana mencintai membaca dan menulis. Inilah kecelakaan terbesar bangsa Indonesia “ – Suparto broto
“ pada sejatinya arah kehidupan manusia ditentukan oleh apa yang dia baca, entah itu bacaan tekstual maupun bacaan kontekstual, karena tulisan yang tersirat maupun tersurat adalah sebagai petunjuk arah bagi manusia”- Sof shuvy vancy.
Budaya membaca masyarakat Indonesia memang masih cukup memprihatinkan. Padahal, salah satu kunci kemajuan sebuah bangsa terletak pada tumbuh suburnya budaya membaca dikalangan masyarakat. Pada negara-negara yang telah maju, budaya membaca dapat dengan mudah ditemukan di bandara, stasiun, terminal maupun tempat-tempat lainnya. Sementara di Indonesia fenomena semacam ini nampaknya masih sangat sulit dijumpai dan masih dianggap terlalu idealis dan elitis.
Dengan kondisi minat baca masyarakat Indonesia yang rendah, nampaknya terlalu berat untuk berkompetisi dengan bangsa lain. kompetisi global membutuhkan kualitas SDM yang kompatibel. Dan SDM semacam ini hanya akan tercipta dalam masyarakat yang memiliki tradisi membaca yang kokoh. Dengan kondisi semacam ini berbagai macam usaha telah di galakan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Mulai dari menyediakan anggaran pengadaan buku murah, kampanye lewat berbagai media hingga seminar ataupun pelatihan. Namun fakta menunjukan sampai saat ini belum banyak perubahan signifikan dalam hal minat baca. Kondisinya masih cukup jauh dari harapan.
Hari ini hampir keseluruhan masyarakat Indonesia bisa membaca namun hal itu bukan berarti masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang gemar membaca atau pembaca aktif. Membaca secara produktif hanya dilakukan oleh mereka yang memang memiliki tradisi membaca dengan baik. Namun lagi-lagi jumlahnya sangat sedikit. Sebab, di dunia pendidikan sekalipun,termasuk perguruan tinggi, ternyata membaca bukju masih menjadi suatu yang asing dan terlalu mewah, dan kebanyakan mkembaca hanya ketika seorang guru atau dosen memberikan tugas tertentu.
Akar penyeban rendahnya minat baca memang cukup kompleks. Ada beragam faktor yang saling berkaitan dan sulit untuk diurai satu persatu. Mulai dari mahalnya harga buku, derasnya arus globalisasi hingga tidak ditumbuhkannya minat dan kesadarn akan makna penting membaca (dan juga menulis) dalam dunia pendidikan dan dalam kalangan keluarga. Semuanya saling berkait an dan menjadi akan faktor penghambat rendahnya minat baca di masyarkat. Berkaitan dengan minat baca lingkungan yang paling dominan untuk merubah adalah pada lingkup keluarga. Oleh karena itu, hal esensial yang menjadi dasar bagi tumbuhnya mianat baca berasal dari lingkungan keluarga dan pendidikan. Pada kedua lingkungan ini seharusnya ditanamkan kesadaran akan minat minat membaca. Disini, anak-anak dibangun sepiritnya mengenai arti dan makna penting membaca dalam kehidupan. Membaca bukan kegiatan yang sia-sia dan tanpa manfaat, tetapi mengandung manfaat yang luar biasa. Dengan membaca, orang dapat mewujudkan semua idealitas hidupnya. Mungkin pendidikan seseorang tidak terlalu tinggi, tetapi bisa jadi dia memiliki wawasan yang luas, pengetahuan, dan kemampuan yang melebihi mereka yang mengenyam pendidikan formal tertinggi sekalipun. Hal ini bisa saja terjadi jika seseorang memiliki minat baca yang efektif dan produktif.
Bagi pembaca sejati, bacaan akan menjadi referensi terhadap pemikiran dan perlakuannya sehari-hari. Bacaan juga dapat menjadi inspirai untuk menjadi orang yang sukses. Jika membaca sudah menjadi rutinitas keseharian anak-anak, kedepan mereka akan mampu untuk mengkontruksi idealitas masa depannya. Karena dengan membaca akan mampu meningkatkan kualitas dan kapasitas diri. Kegiatan membaca, jika dicermati kelihatannya cukup sederhana. Hanya ada tiga unsur, yaitu teks bacaan, pembaca, dan aktifitas membaca. Hanya itu saja, tetapi definisi membaca ternyata tidaklah sesederhana itu. Salah satu definisi membaca dikemukakan oleh guru besar IKIP Bandung (Sekarang Universitas pendidikan Indonesia (UPI), penj-) Pros. Dr. Henry Guntur Tarigan. Menurut tarigan, membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kata-kata/ bahasa tulis. Hal ini dilakukan agar kelompok kata yang merupakan satu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan dapat tertangkap atau dipahami, dan proses membaca tidak terlaksanakan dengan baik (Tarigan, 1990: 6)
Tidak hanya Tarigan yang mengemukakan makna penting membaca, I Gusti Ngurah Oka menyatakan bahwa dari berbagai macam dinamika dan perkembangan teori membaca, setidaknya ada tiga macam pendekatan yang digunakan didalam memahami makna membaca, yaitu pendekatan konseptual, pendekatan empirkal, dan pendekatan eksperimental. Pendekatan konseptual meliputi berbagai macam metodologi pendekatan yang kesemuanya berangkat dari sutu konsep tentang membaca dan berakhir dengan model tertentu dengan proses membaca. Pendekatan jenis ini sering dimanfaatkan oleh sebagian ahli dalam bidang studi membaca sejak paruh pertama abad ke-20. Salah seorang tokoh perintisnya adalah Kenneth S. Goodman. Pada tahap pertamanya ia menerapkan teori komunikasi yang merupakan aspek terapan dari teori-teori linguistik untuk memeriksa proses membaca pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu komunikasi antara pembaca dengan tuturan tertulis (bacaan) yang dibacanya.
Pendekatan linguistik ini kemudian direvisi dan disempurnakan dalam Teori Transformatif Generatif yang ditemukan oleh Naom Chomsky. Model ini menekankan bahwa membaca adalah seperangkat proses “recording, decoding dan encoding” yang berakhir pada pemahaman. Dalam kerangka teori ini, membaca didefinisikan sebagai suatu proses yang rumit di mana membaca melakukan rekonstruksi dalam tingkatan tertentu terhadap pesan yang dituangkan oleh pengarang dalam bahasa tulis (Oka, tt: 22-24).
Pendekatan yang kedua, yaitu pendekatan empirik melihat proses membaca secara empiris lewat pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain yang melaksanakan kegiatan membaca. Pengalaman membaca inilah yang kemudian dikaji atau dianalisa serta diuji untuk menghasilkan teori tentang proses membaca. Teori membaca yang memanfaatkan pendekatan empirikal cukup banyak. Termasuk ke dalam teori ini adalah; (1). Teori yang memandang membaca sebagai proses berfikir, (2) Teori yang memandang membaca sebagai perangkat ketrampilan, (3) Teori yang memandang membaca sebagai kegiatan mempersiapkan atau kegiatan perseptual, (4) Teori yang menganggap membaca sebagai kegiatan visual, dan (5) Teori yang menganggap membaca sebagai pengalaman membaca (Oka, tt: 28).
Pendekatan ketiga yaitu pendekatan eksperimentasi, mengkaji tentang proses pemahaman atau penangkapan makna dari tutran tertulis yang dibaca (bacaan). Teori yang dimanfaatkan sebagai landasan eksperimentasi adalah teori yang memandang membaca sebagai proses atau kegiatan menangkap makna dari bacaan (Oka, tt: 49). Faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam kegiatan membaca yang didasarkan dari pendekatan eksperimentasi antaralain (1) faktor intelegensia, (2) faktor sikap, (3) faktoe perbedaan kelamin, (4) faktor penguasaan bahasa, (5) faktor status ekonomi sosial, (6) faktor bahan bacaan, (7) faktor guru.
Dengan membaca maka seseorang bisa berbicara, dengan membaca seseorang bisa menulis dan dengan membaca seseorang dapat menemukan sebuah arti dari bacaan, bacaan dapat menentukan arah kehidupannya bagi seorang santri yang hampir rutinitasnya membaca bacaan yang bersifat religi maka kehidupannya pun tidak terlepas dari nuansa religius, begitu pula dengan seorang yang hanya mengenyam pendidikan formal, maka kehidupannya pun akan sering di hiasi dengan pemikiran-pemikiran yang rasional, seseorang akan menjadi semakin bijak menapaki kehidupan jika dia telah membaca berbagi macam tulisan entah itu tulisan-tulisan religieous maupun tulisan-tulisan teori-teori sosial. Yang menyababkan kabijaksanaan itu datang pada seseorang yang gemar membaca adalah telah tertanamnya berbagai macam perspektif dalam otaknya sehingga semakin luas pula paradigmanya dalam melihat segi-segi kehidupan, dia mampu melihat suatu kejadian dari berbagai macam aspek yang berkaitan dengan kejadian yang dia lihat atau dia alami sendiri.

D.    Mengembangkan Kreativitas

“kretifitas adalah soal yang tak biasa. Menakutkan. Menggusarkan. Subversif. Tak mudah percaya terhadap apa yang di dengar. Berani curiga. Selalu bertindak sekalipun salah. Mempertanyakan gagasan yang sudah diterima sebelumnya. Menggoyang kepastian-kepastian. Terus menerus menemukan cara baru. Kerja baru. Menggugat dan mengubah sudut pandang”- David Carson

Hal yang paling mendasar dari definisi kreatifitas adalah kemampuan untuk menciptakan atu menghasilkan seseuatu entah itu hasil karya maupun ide-ide yang baru. Kreativitas adalah potensi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap manusia, tidak ada manusia yang tidak memiliki daya kreatifitas. Persoalannya, potensi kreatif itu tidak akan berubah dan berkembang jika tidak didayagunakan secara baik. Potensi tersebut akan tinggal sebagai potensi belaka.
Dalam perkembangannya daya kreatifitas bisa tumbuh dan berkembang di pengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal. Diantara faktor-faktor internal yang mempengaruhi kreatifitas adalah aspek kognitif dan aspek kepribadian. Faktor kognitif terdiri dari kecerdasan (intelegensia) dan aspek kepribadian. Faktor kognitif terdiri dari kecerdasan (intelegensia) dan pemerkayaan bahan berpikir, berupa pengalaman dan keterampilan; sedangkan faktor kepribadian terdiri dari rasa ingin tahu, harga diri dan kepercayaan diri, sifat mandiri, berani mengambil resiko dan asertif. Asertivitas adalah suatu sikap yang bercirikan kepercayaan diri kebebasan berekspresi secara jujur, dan berani bertanggung jawab. Semuanya ini sangat mempengaruhi terhadap kreatifitas.
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi kreatifitas adalah lingkungan. Faktor lingkungan yang terpenting adalah lingkungan yang memberikan dukungan atas kebebasan individu dan menghargai kreatifitas. Kreatifitas sebagai potensi memiliki dua kemungkinan yakni statis, mandeg, bahkan mungkin menghilang atau bisa saja justru tumbuh berkembang secara pesat.  Semua itu tergantung bagaimana seseorang mengelnali potensi pada dirinya, ketika seseorang mengetahui bahwa dirinya memiliki berbagai macam potensi maka seyogyanya dia akan menjadi seorang yang terus semangat menciptakan kreatifitas, sedangkan bagi yang kebingungan tentang potensinya maka yang ada adalah kemandegan daya kreatifitas atau bahkan mungkin kehilangan daya kreatifitas.
Agar potensi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, menurut J. Stanley Gray ada dua persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu motifasi dan informasi. Motifasi atau dorongan ini sangat berpengaruh besar dalam membangkitkan kreatifitas, motifasi dari diri pribadi lebih efektif daripada motifasi yang datang dari luar/orang lain. karena motifasi dari diri individu manusia berakar dari kesadaran lebih mengakar kuat dalam jiwa, dan bukan dari hasil interaksi atau sentuhan dari pihak lain. sedangkan motifasi yang diberikan oleh orang lain terkadang individu manusia seringkali salah tangkap makna motifasi tersebut, karena mengandung unsur “perintah”. Motifasi pada diri seseorang akan mencuat ketika ada masalah, atau justru kita mnciptakan masalah, yang mendorong kita untuk menyelesaikannya. Ketika kesulitan, ada keinginan kuat untuk memecahkannya. Dan sangat beruntungnya tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah. Mereka yang memiliki motifasi kuat untuk tidak hanyut dalam masalah, pada orang semacam inilah kreatifitas muncul dan menjadi dari persoalan yang dihadapi.
Sementara pada orang yang bingung, pusing, bersedih, dan hanyaut saat menghadapi masalah maka daya kreatifitas pada dirinya tidak akan muncul, sehingga yang muncul adalah rasa kecewa, putus asa, dan kehancuran tatanan kehidupannya. Namun sangat disayangkan sistem pendidikan kita kurang memberikan apresiasi yang memadai bagi berkembangnya kreatifitas. Keragaman yang dimiliki siswa seringkali terhambat, atau bahkan dimatikan oleh “ironisnya” guru sendiri. Dengan konsep pembelajaran yang didominasi oleh guru, maka inilah salah satu masalah yang menghambat kreativitas para peserta didik.
Dibutuhkan usaha yang cukup keras untuk membangun potensi kreativitas agar lebih optimal. Dalam konteks ini, ada bebrapa langkah yang dapat dilakukan; pertama, memberikan lingkungan yang kondisif guna pengembangan kreativitas. Kedua, memilih media yang sesuai dengan kondisi anak. Ketiga, menerima ide-ide dari mereka. Keempat, menggunakan pemecahan masalah yang kreatif. Kelima, kretivitas tidak mengikuti waktu dan lebih menekankan pada proses daripada hasil. Keenam, anak akan sulit kreatif tanpa inspirasi yang konkret. Ketujuh, mengenalakan kepada anak-anak terhadap budaya, pengalaman, organisasi dan cara berpikir yang berbeda. Dan kedelapan, hati-hati terhadap rintangan kreativitas.
Faktor spiritualitas (baca: keimanan) juga mempengaruhi kreativitas seseorang. Sebagaimana diungkapkan oleh Osman Bakar bahwa keimanan pada wahyu AL-QUR’AN dapat menyingkapkan semua kemungkinan-kemungkinan yang terdapat pada akal manusia. Ketundukan pada wahyu membuat akal mampu mngaktualisasikan segala kemungkinan potensi-potensi manusia. Dalam hal ini, sangat relevan apa yang ditanyakan oleh Ibnu Sina, bahwa penerimaan ide-ide yang lebih tinggi hanya mungkin bila pikiran dicerahkan oleh akal aktif. Agar bisa tercerahkan, akal mesti disinari oleh cahaya iman, dan disentuh oleh keberkatan yang tumbuh dari wahyu (Bakar: 1995).
E.     Membangun Efektifitas Sekolah

“ Saya yakin, kita harus meninggalkan jauh-jauh bermacam-macam tes dan berbagai keterkaitan di antara tes, dan sebagi gantinya mencari sumber informasi yang lebih alamiah tentang bagaimana orang diseluruh dunia mengembangkan kemampuan-kemampuan yang penting bagi hidup mereka “ – Howard Gardener


Salah satu agenda penting yang mendesak dilakukan dalam rangka menciptakan pendidikan yang mencerahkan adalah melakukan perbaikan sekolah-sekolah yang ada. Perbaikan mencakup segala hal; baik fisik maupun non fisik. Perbaikan fisik berkaitan dengan gedung  sekolah, sarana prasarana, perlengkapan pembelajaran, dan berbagai bentuk kebutuhan lain yang mendukung bagi proses belajar mengajar di sekolah. Perbaikan fisik bukan faktor yang dominan untuk menjadikan dunia pendidikan Indonesia mendapatkan pencerahan perbaikan fisik hanyalah sebuah saraana agar proses belajar mengajar biasa berlangsung kondusif dan nyaman. namun yang lebih penting dalam kerangka perbaikan sekolah adalah perbaikan dari sisi kurikulum, perbaikan menejemen, peningkatan kualitas guru, efektifitas proses pembelajaran, dan beberapa faktor subtansial lain yang lebih mendukung kearah pencerahan.
Untuk mengetahui sampai seberapa jauh suatu sekolah melakukan perbaikan maka dibutuhkan tolak ukur dan parameter yang jelas, karena semuanya harus diperhitungkan secara matang, penuh pertimbangan dan tidak asal-asal  saja. Jhon Macbeath dan Loise Stoll (dalam Macbeath dan Peter Mortimore (ed): 2005, 240-241) memberikan persyaratan penting sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pembangunan sekolah. Pertama, ini adalah suatu sekolah pembelajaran. Dalam prinsip ini ada komiten dari staf, dengan murid, dan orang tua. Orang tidak takut melakukan sesuatu hal baru dan terpacu untuk bereksterimen. Ketdua, ada harapan tinggi akan pencapaian murid. Ada komitmen luas untuk mencapai prestasi tinggi. Staf percaya bahwa setiap siswa bisa melebihi harapan mereka sendiri. Ketiga, ada rasa memiliki perubahan. Orang bertindak lebih secara produktif daripada aktif. Keempat, ada tujuan dan nilai yang dirasakan oleh orang banyak. Ada pemahaman bersama akan nilai dan prioritas sekolah itu dan komitmen bersama kepada nilai-nilai intinya. Kelima, ada komunikasi yang aktif dan efektif. Anggota dari komunitas sekolah itu dan semua warga sekelilingnya diupayakan mendapatkan informasi yang jelas. Keenam, pembelajaran murid adalah pusat perhatian utama. Ketujuh, kepemimpinan efektif. Ada kepercayaan kepada mereka yang membut keputusan penting tentang visi dan arah sekolah itu. Kedelapan, ada kemitraan nyata antara sekolah dan rumah. Staf percaya bahwaorang tua punya peran penting untuk dimainkan dalam mendukung pembelajaran murid, dan sekolah pada umumnya. Kesembilan, hubungan didasarkan kepada respek terhadap individual. Ada tingkat saling menghargai yang tinggi di kalangan staf terhadap profesionalitas satu sama lain dan untuk integritas individual. Hal ini juga di tujukan kepada murid dan orang tua. Kesepuluh, kolaborasi dan kemitraan adalah satu cara hidup. Saling bekerja sama. Ada satu pendekatan konsisten dan suportif.
Efektifitas sekolah berarti memaksimalkan segenap potensi dan pelung yang ada untuk menghasilkan sesuatu secara optimal. Selaras dengan makna dasar efektif, dengan menjalankan efektivitas, sekolah diharapkan  dapat menjadi semakin bermutu, berkualitas dan mencerahkan.

BAB IV
JEJAK-JEJAK PENCERAHAN


A.    Pecandu Pendidikan

kita mengetahui sebanyak yang kita tau, karena pada dasarnya kita dilahirkan untuk mengetahui”- Naom Chomsky


Makna penting pendidikan sudah diketahui oleh sebagian besar orang. Tetapi kesadaran untuk menjadikan pendidikan sebagai bagian tidak terpisah dari kehidupan masih menjadi agenda besar yang harus terus menerus diperjuangkan. Sebab, kesadaran ini ternyata baru tumbuh di sebagian kecil kalangan masyarakat. Sementara sebagian besar masyarakat masih memahami pendidikan sebatas formalitas sekolah sampai jenjang tertentu. Ada cukup banyak persoalan rumit berkaitan dengan hal ini. Dalam berbagai pengamatan dan penelitian yang penulis lakukan, ditemukan berbagi kasus menarik yang berkaitan dengan persoalan ini. Misalnya ada orang tua yang memiliki kemampuan, keinginan besar, dan merasakan kebanggaan untuk menyekolahkan anaknya. Sayangnya, hasrat ini harus ditepiskan karena si anak tidak tertarik untuk sekolah. Jika anak terus terang untuk tidak sekolah dan memilih bekerja, mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Sebab, pilihan hidup si anak memang lebuh pada aspek pekerjaan. Namun yang menjadi masalah dan menyedihkan, dalam banyak kasus, tidak sedikit anak yang izinnya ke sekolah, tetapi ternyata mereka membolos. Biaya sekolah mereka habiskan untuk hura-hura. Padahal, orangtuanya menyimpan harapan besar kepadanya.
Di sisi lain, tidak sedikit juga anak yang memiliki minat belajar yang cukup tinggi, tetapi orang tuanya memiliki keterbatasan ekonomi untuk menyekolahkan anaknya. Akibatnya, hasrat besar ini juga ditepis mengingat ketidak mampuan orang tua untuk membiayai anaknya sekolah. Meskipun anak bersikeras untuk melannjutkan sekolah, maka mereka harus berjuang ekstra keras untuk mencari biaya. Banyak dari mereka yang gagal meraih impian namun tidak sedikit pula yang sukses. Bahkan banyak yang pada akhirnya meraih jenjang pendidikan tinggi, dengan menjadi profesor atau doktor.
Ilmu pengetahuan terus berkembang sedemikian cepat. Bahkan kecepatnnya tidak mampu diimbangi oleh manusia super sekalipun untuk menangkapnya. Yang mampu dilakukan manusia adalah menyeleksi bagian demi bagian yang relevan dengan bidang yang cocok dengan minat dan bidang yang diketahui. Untuk zaman sekarang ini, mustahil menjadi seorang genius yang memilki keahlian generalis. Hanya orang-orang yang hidup ketika zaman ilmu pengetahuan belum terpecah menjadi budang sepesifik seperti sekarang ini saja yang mungkin menjadi seorang yang menguasai aneka budang keilmuan. Sepirit mencari ilmu yang besar tanpa kenal hambatan merupakan karakteristik orang yang telah menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan, bahkan candu. Ya, para pecandu pendidikan gigih menghadapi tantangan apa pun yang menghadang, sehingga mereka terus belajar dan belajar tanpa kenal lelah. Deskripsi dari novel inspiratif yang begitu fenomenal dari Andrea Hirata, Laskar Pelangi, memberikan pencerahan yang begitu menyentuh tentang bagimana seorang lintang harus berjuang keras untuk sampai disekolahnya. Dalam novel hirata ini, sosok lintang adalah sosok seorang siswa yang mempuyai tipikal tak kenal akan kata putus asa dan tak kenal lelah dalam mengejar mimpinya memperoleh pendidikan yang layak.
Hemmmmm... entah kapan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan dengan makna yang sesuai dengan hakekatnya. Kemudahan dalam segenap fasilitas pendidikan, baik dari sekolah maupun orang tua, tidak membangkitkan keinginan kuat dalam menuntut ilmu. Sebaliknya, kesempatan itu justru di sia-siakan seolah tanpa mengenal kata peduli, kondisi ini tentu sebuah ironi yang miris juga bikin meringis jika kita bandingkan dengan sosok lintang dalam novel Andrea Hirata. Pendidikan memang tidak mengenal usia, Socrates contohnya, ia mempelajari musik pada usia yang telah senja selam bertahun-tahun. Suatu ketika ia ditanya “apakah anda tidak merasa malu belajar pada usia yang seperti ini?” dan Socrates pun menjawab, “ saya akan lebih malu jika menjadi orang bodoh pada sisa usia seperti ini “sebuah jawaban yang begitu kokoh dan menggetarkan. Wajar saja ketika pada hari ini nama Socrates masih di dengung-dengungkan oleh para penuntut ilmu formal, padahal Socrates hidup di dua abad yang lalu. Socrates mewakili tipologi orang yang kecanduan pendidikan.
Istilah pecandu pendidikan mungkin bagi pembaca terdengar aneh, namun istilah ini adalah istilah yang diusung oleh pisikolog sekaligus ahli pendidikan dari Amerika, Anne Craight, Ph.D. Craight (2008: 27) menyatakan bahwa hanya dengan menjadikan masyarakat sebagai komunitas yang terdiri dari individu-individu yang menjadi pecandu pendidikan saja yang dapat mengantarkan masyarakat menjadi masyarakat yang maju, berbudaya, dan penuh semangat menuju kemajuan hidup yang berkualitas. Bagi Craight, tidak ada formula yang lebih ampuh untuk memajukan masyarakat selain menjadikan masyarakatnya sebagai pecandu pendidikan. Formula itu begitu menarik, kata pecandu mungkin lebih cenderung bernuansa pejoratif. Jika kita mendengar kata pecandu, maka bayangan yang muncul dibenak kita adalah orang-orang yang sudah  ketagihan terhadap hal-hal negatif seperti narkoba, atau minum-minuman keras. Tetapi sesungguhnya sebagaiman karekteristik sebuah kata atau konsep yang pada dasarnya kata atau konsep itu bersifat netral. Persoalan kemudiandimaknai secara negatif atau positif lebih berkaitan dengan proses pencitraan dan imajinasi yang dipakai, serta kepentingan yang melatar belakanginya.

B.     Masyarakat Belajar

menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim sejak lahir hingga di liang lahat “- Al Hadits

Implikasi konkret dari para pencari ilmu/pecandu pendidikan sejati adalah tumbuhnya masyarakat belajar. Konsep masyarakat belajar menjadi menarik untuk diteguhkan kembali pada era sekarang ini karena perannya yang sangat penting dalam memajukan masyarakat. Adanya masyarakat belajar menandakan sebuah kedinamisan. Masyarakat belajar senantiasa melakukan usah-usaha kreatif untuk menambah pengetahuannya dalam konteks kehidupan sehari-hari, melakukan transformasi, dan pada akhirnya terus menerus memajukan masyarakat. Konsep tentang masyarakat belajar dikenalkan oleh Rupert C. Lodge. Tokoh ini terkenal dengan pernyataannya yang lugas dan juga menggetarkan, life is education and education is life. (Rupert C. Lodge, 1974: 23). Pernyataan ini menunjukan bahwa pendidikan merupakan suatu kemestian dalam kehidupan manusia. Eksistensi pendidikan merupakan salah satu syarat utama untuk meneruskan dan mengekalkan kebudayaan manusia. Kesatuan dan kepaduan antara pendidikan dengan kehidupan menunjukan bahwa keduanya merupakan salah satu rangkaian satu rangkaian yang tidak bisa terpisahkan. Konsep ini menunjukan bahwa masyarakat belajar adalh masyarakat yang senantiasa menjalani proses pendidikan sepanjang hidupnya.
C.    Pendidikan Berkualitas Tidak Harus Mahal

“ sekolah dimasa kini (apalagi, kelak, dimasa depan) selayaknya benar-benar menjadi “sekolah kehidupan”. Di sekolah setiap orang belajar kehidupan dalam arti yang sebenar-benarnya. Di sekolah pulalah, semangat berani mencoba, semangat bangkit dari kegagalan, dan semangat untuk tidak takut salah, senantisa dicoba setiap hari tak kenal henti “- Hernowo

Pendidikan berkualitas dan bermutu tinggi selalu menjadi impian setiap orang, namun kriteria pendidikan seperti yang di tuliskan di atas untuk saat ini masih berpihak pada masyarakat yang secara ekonomi sudah mapan, dan bagi mereka biaya pendidikan tidak menjadi sebuah pertimbangan utama dalam menyekolahkan anak-anak mereka. Mereka lebih mengutamakan bagaimana memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anaknya. Fakta sosial yang ada pada hari ini adalah pendidikan yang dianggap berkualitas semakin bermunculan, paradigma liberal konteks hari ini sedang betah bercokol di dunia pendidikan Indonesia. Adanya sekolah-sekolah yang Bersetandar nasional maupun Internasional kini menjadi buruan oleh hampir semua kalangan masyarakat, bahkan masyarakat yang basis ekonominya menengah kebawah sekalipun, yang menginginkan anak mereka mengenyam pendidikan yang berkualitas. Tapi pada realita yang ada kualitas sekolah konteks hari ini masih di asumsikan dengan adanya gedung yang megah, dan fasilitas yang mewah tentunya di ikuti biaya sekolah yang lumayan uwwwah.
Selama ini pendidikan berkualitas selalu identik dengan biaya yang serba mahal, bahkan ada yang sayaratn pendaftarannya harus mempunyai laptop, tentu saja bagi keluarga yang memiliki basis ekonomi menengah kebawah harus pontang- panting jika si anak ngotot menginginkan sekolah di sekolah yang notbene berkualitas tersebut, seolah-olah pendidikan kembali mengalami kemunduran waktu, hal ini mengingatkan penulis resume pada pelajaran sejarah tempo doeloe, dimana masyarakat Indonesia di bagi beberapa kelas, dan hanya orang-orang yang kaya saja yang boleh mengenyam pendidikan yang bermutu, sedang yang miskin atau rakyat jelata hanya cukup bersekolah di sekolah pembodohan yang di sediakian penjajah. Rasanya konteks hari ini tidak jauh berbeda, sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, hanya di bangun khusus untuk anak-anak pejabat. Sedangkan anak tukang becak secara tidak langsung terganjal faktor ekonomi.
Pendidikan berkualitas tidak harus mahal kan? Seolah pertanyaan ini selalu mendapatkan jawaban “harus”, memang untuk mewujudkan pendidikan pendidikan yang berkualita namun tetap berpihak masyarakat miskin belum terwujud sampai detik ini, sulit bukan berarti tidak bisa kan?. Kunci sebenarnya terletak di tangan pengelolanya. Para pengelola harus memiliki kreativitas dan keberanian melakukan berbagai ragam trobosan yang memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan murah namun berkualitas. Satu hal mendasar yang harus dilakukan dalam sisitem pendidikan Indonesia saat ini adalah kesepakatan bersama dari semua pihak untuk bersatu dalam menata pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki live skills, mampu memecahkan masalah, belajar mengetahui, belajar melakukan, belajar menjadi diri sendiri, belajar seumur hidup.
Dalam semangat membangun sistem pendidikan yang lebih bermutu, Mujiran (2002: 93-95) menwarkan perrspektif yang dilandasi oleh idealitas tentang pendidikan yang sesuai harapan. Menurut Mujiran, dalam era otonomi daerah yang didalamnya juga terkandung otonomi pendidikan, merupakan sebuah peluang untuk mereformasi perwajahan pendidikan kita. Dalam kerangka ini, ada beberapa ada beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan. Pertama, pada era otonomi, pola pendidikan yang kaku, yang meletakan anak didik bukan pada sektor utama (subjek) harus diubah dan kedepan anak didik harus diletakan pada posisi subjek utama pendidikan. Oleh karena itu, harus diciptakan suasana yang membuat anak didik senang untuk bersekolah, senang untuk mengemukakan ide-ide, dan yang tidak kalah penting, suasana sekolah dibuat sedemikian rupa sehingga anak kerasan, enjoy, dan merasa senang untuk bersekolah.
Sekolah masa depan adalah sekolah yang memberikan pelayanan bermutu tinggi kepada konsumen, mengguanakan paradigma kritis transformatif, dan dengan sistem yang tidak membinasakan potensi. Sekolah masa depan harus membuat para siswa yang belajar benar-benar merasa senang. Perasaan senang ini tidak sekedar hura-hura yang tak bermakna, namun keadan senang itu di barengi dengan semangat yang menggebu, tantangan yang layak ditaklukan, mianat yang tinggi, dan segala hal yang membuat seorang siswa nerasa tidak takut, tidak terancam, dan tidak bebas ketika datang ke sekolah.
Dalam kerangka menuju formula ideal sekolah di masa depan, sekolah masa kini harus membekali siswanya dengan “ cara-car belajar “. Sekolah harus mampu memberdayakan muridnya dengan belbagai “alat” atau “perkakas” yang membuat mereka terampil dan piawai belajar apa saja. Mereka harus didorong untuk mampu belajar mandiri. Selian itu, sekolah harus berusaha sekuat tenaga untuk memindahkan realitas yang berkembang di luar sekolah ke dalam sekolah. Karena realita yang berkembang di luar sekolah terjadi lebih cepat ketimbang laju perkembangan di sekolah. Kedua, selama ini keterlibatkan orang tua dan masyarakat baru sebatas membayar biaya sekolah. Padahal, waktu paling banyak anak didik justru berada di kalangan dan masyarakat. Sedangkan di sekolah, minimal tujuh jam per hari dari 24 jam yang tersedia. Maka, kurikulum pendidikan dalam penyusunan harus melibatkan orang tua dn masyarakat.
Ketiga, perlu adanya transparasi keuangan dalam pengelolaan pendidikan. Aspek trasparasi nampaknya sangat jarang dikembangkan dengan baik. Banyak sekolah yang tiba-tiba menyodorkan orang tua murid dengan kwitansi dan SPP, UPS, dan tidak tahu dana itu dalam relisi komunikasi guru murid, guru orang tua sehingga orang tua tidak bertanya-tanya tentang pola yang diterapkan dalam pendidikan anaknya. Karena dengan adanya transparasi akan meminimalisir adanya miskomunikasi, antara sekolah dengan orang tua murid. Makin profesional lembaga pendidikan di kelola, maka makin dituntut pula keterlibatan orang tua dan masyarakat.
Keempat, sudah saatnya pengembangan pendidikan dananya tidak terus menerus dibebankan kepada orang tua dan masyarakat. Dari tahun ke tahun dana penyelenggaraan pendidikan meningkat dan imbasnya menaikan SPP, UPS, yang mekin menjadi-jadi. Perlu dibuat investasi dalam jangka panjang, semisal dana abadi sekoalah yang dikelola secara bersama dan transparan.
Kelima, perlu diadakannya perpustakaan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Karena selama ini perpustakaan tidak bisa secara leluasa dinikamati masyarakat, sebab perpustakaan belum dirasakan menjadi kebutuhan. Diperlukan dorongan yang sungguh pada anak agar mempunyai kebiasaan membaca sejak masih dalam lingkungan keluarga.
Keenam, memberikan prioritas utama pada mereka yang terlantar dan miskin dalam keempatan memproleh pendidikan, jika orang miskin tidak diperhatikan, mereka akan menjadi tidak sekolah dan mengakibatkan kesenjangan sosial semakin terus menganga imbasnya adalah meningkatnya kriminalitas.

Sementara bagi sekolah swasta yang di kelola oleh yayasan, reformasi dalam rangka perbaikan sistem pengelolaan pendidikan juga mutlak untuk dilakukan. Langkah yang sangat mendasar adalah mereformasi yayasan tersebut. Dalam kerangka ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh yayasan. Pertama, menegaskan visi dan misi yayasan, diantaranya tujuh pokok mendirikan sekolah. Visi misi merupakan kiblat dan arah dasar seluruh aktivitas pendidikan. Visi misi ini menjadi orientasi utama semua yang terlibat di dalamnya.
 Kedua, mempersiapkan perangkat-perangkat dan pedoman yang jelas sebagai landasan untuk bertindak ataupun mengambil kebijakan.
Ketiga, menciptakan dan memelihara iklim dialog dan keterbukaan, sehingga persoalan-persoalan sekolah bisa ditangani bersama disamping aspirasi-aspirasi yang muncul bisa di tampung. Gaya managemen partisipatif yang memberdayakan semua pihak terus dikembangkan dengan menghormati hak, kewajiban, wewenang setiap pejabat/ individu.
Keempat, memelihara dan meningkatkan kekompakan antara pengurus yayasan sendiri, demikian juga antara  yayasan, kepela sekolah, dan guru perlu diciptakan suasana komunikasi yang baik sehingga tidak membuka peluang pada pihak lain melakukan adu domba.
Kelima, pendidikan moral dan pendidikan agama di usahakan dengan penekanan utama pada usaha peningkatan kualitas hidup dan keutamaan. Juga perlu mencari metode yang tepat untuk memberikan pembinaan dan pemitraan bagi guru dan karyawan.
Keenam, meningkatkan kerjasama dengan orang tua murid dan pihak lain yang relevan agar kemungkinan dampak negatif dari globalisasi dapat diantisi pasi bersama.
Ketujuh, meningkatkan peran para pembimbing dan wali kelas, sehingga persoalan- persoalan siswa dalam belajar dapat di kenal dan dikelola sedini mungkin.
Kedelapan, mengupayakan pelajaran bermutu dan menarik sehingga sehingga siswa mempunyai gairah belajar. Jika pelajaran tidak menarik atau kurang bermutu, dampaknya dalah guru tidak berharga dimata murid (Mujiran, 2002: 96-97).

Dengan penataan ulang praktek pendidikan secara menyeluruh dan  membangun kembali format pendidikan yang efektif dan efisien meliputi profesionalitas guru, kurikulum yang baik, metode dan strategi pembelajaran, media sarana dan prasarana juga fasilitas yang memadai, perencanaan program pendidikan yang matang, implementai yang penuh edikasi serta evaluasi yang terus menerus, INSYA ALLOH Haqul yaqin dapat mewujudkan anak didik dan generasi bangsa menjadi manusia-manusia yang berkualitas, yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sosial, lingkungan, ilmu pengetahuan, dan teknologi moderenserta mampu menjawab tantangan zaman yang semakin komplek dan global.
Tantangan yang ada pada hari ini adalh Logika Kapitalis-pragmatis nampaknya sulit untuk di ajak kompromi untuk mewujudkan pendidikan berkualitas dengan biaya murah. Dibutuhkan perjuangan secara terus menerus untuk memberikan hak yang sama dalam bidang pendidikan,  tanpa adanya diskriminasi antara yang kaya dengan si miskin. Karena pendidikan adalah proses humanisasi yang artinya semua berhak menikmati pendidikan berkualitas.
Jangan di salahkan jika dalam keadaan dunia pendidikan yang carut-marut ini kemudia tumbuh pemikiran-pemikiran yang eksploratif kemudian muncul kreatifitas, dan sikap integral yang penuh keberanian dan kemahiran mencari jalan alternatif, dan jika cara berpikir linear berpadu di dalam otak dengan cara berpikr lateral maka melahirkan daya pikir yang “nggiwar”. Nampaknya merupakan hukum sejarah jika pada suatu masa selalu hadir manusia-manusia “GILA”. Mereka melakukan sesuatu yang keluar dari batas-batas kewajaran, mereka mendobrak tradisi dan kemapanan, serta mnawarkan perspektif yang dekonstruktif. Menurut Ali Syariati, bila kita ingin melihat masa depan suatu masyarakat, maka kita harus melihat pada karakteristik kelompok pemikir yang “menyimpang” semacam ini. Sebab, di tangan merekalah sesungguhnya kontruksi dan masa depan masyarakat ditentukan.
Nampaknya sosok Ahmad Bahrudin layak untuk dimasukan kedalam kategori ini. Pemuda desa putra seorang kiai di salatig ini membuat trobosan yang mengejutkan dalam praktek pendidikan di Indonesia. Ia mendobrak asumsi bahwa sekolah berkualitas harus mahal. Usaha yang dirintis dalam bidang pendidikan dengan mendirikan SMP Qaryah Thayyibah dapat dikategorikan sebagai usaha yang dekonstruktif. Dengan segala keterbatasan yang ada, dia mampu membuat sekolahyang berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan anak didiknya yang tidak kalah jika dibandingkan dengan siswa dari sekolah unggulan yang berbiaya mahal.
Ada cukup banyak prestasi membanggakan yang ditunjukan oleh anak didik baharuddin. Beberapa siswanya juara dalam beragam lomba, mulai pidato, menyanyi, menulis, maupun beragam kompetisi lainnya di tingkat lokal hingga Nasional. Ini tentu saja hal yang sangat luar biasa, mengingat sekolah ini letaknya di pelosok desa yang jauh dari berbagi akses publik.
Rahasia kesuksesan Qaryah Thayyibah salah satunya dapat ditelisik melalui pelaksanaan kurikulum. Setidaknya ada lima karakteristik pada kurikulum sekolah tersebut. Pertama, menekankan pada pilihan persoalan yang bebas.
Kedua, berpusat pada kegiatan belajar yang ditentikan secar bersama-sama.
Ketiga,  menekankan pada izin bagi setiap individu untuk menentukan pusat perhatian sendiri dalam belajar.
Keempat, kegiatan belajar di tentukan secara bersama-sama. Dan
Kelima,  setiap siswa bebas menetukan sifat maupun isi apa yang dipelajarinya sendiri (Bahrudin, 2007: 9).
\
Dimensi yang menarik untuk di angkat dari model pendidikan alternatif ini adalah perhatiannya terhadap anak-anak dari keluarga yang kurang mampu dalam segi ekonomi. Namun tetap mengedepankan out put yang berkualitas dan berkapasitas. Wajar ketika Qaryah Thayyibah seketika mencuat dan menjadi sorotan publik.




BAB V

PENUTUP

Pendidikan sebagai bagian erat dari dinamika sosial kemasyarakatan harus selalu tanggap terhadap perubahan. Dalam artian peran lembaga pendidikan dan masyarakat merupakan modal pokok dalam proses pendidikan. Dalam kondisi semacam ini, lembaga harus menjadikan dirinya sebagi bagian dari masyarakat, setiap kegiatan sekoalah adalah kegiatan masyarakat dan begitu pun sebaliknya. Bukan malah membangu tembok elitisme yang memisahkan diri dari masyarakat. Sebab dengan cara semacam itu akan mengakibatkan lembaga pendidikan menjadi barang yang antik yang kehilangan makna fungsionalnya bagi masyarakat.
Lembga pendidikan di mana pun dan dalam bentuk yang seperti apa pun seharusnya tidak menempatkan piosisinya sebagai menara air, yaitu melebur menjadi satu dengan masyarakat tanpa memberikan makna dan identitas apa-apa. Ia juga bukan menara gading yang mengisolasi diri terhadap masyarakat sekitarnya. Lembaga pendidikan yang benarl, dalam pandangan Made Pidarta (1997: 170), ibarat menara perang, yakni berada di tengah masyarakat dan memberikan penerangan terhadap masyarakat.
Sebagai instrumen yang paling efektif dalam mengembangkan dan memaksimalkan potensi menuju wujud manusia yang berkualitas, maka pendidikan tidak bisa dibiarkan berjalan secara apa adany. Pendidikan akan ideal manakala adanya perencanaan yang matang dan dilaksanakan berdasarkan beberapa prinsip yakni; terpadu (integrl), seimbang, bagian dari proses rububiyah, membentuk manusia seutuhnya, selalu berkaitan dengan agama, terbuka, menjaga perbedaan individual, dan prinsip-prinsib berlangsung sepanjang hayat, serta evaluasi tiada henti. Bentuk evaluasi yang efektif adalah bentuk efaluasi otentik, yakni efaluasi dalam bentuk perilaku peserta didik dalam menerapkan apa yang dipelajari dalam kehidupan nyata. Do’a ku untuk Indonesia, lekas bangkitlah dan jadilah macan dunia.. amiin. Alhamdulillah. J.




DAFTAR PUSTAKA

A.      Chaedar Alwasilah, Filsafat Bahasa Dan Pendidikan,
 Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008.

A.      Ferry T. Indartno (Ed), Kurikulum Yang Mencerdaskan, Visi 2030 Dan Pendidikan         Alternatif, Cet.2, Jakarta: Kompas, 2008.

Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan, Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, Yogyakarta: Tiara Wacan, 2002.
Paradigma Intelektual Muslim, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam Dan Dakwah, Yogyakarta: Sipress, 1993.

Agus Suwignyo, Dasar-Dasar Intelektualitas, Yang Terlupakan Dalam Hubungan Universitas Dan Dunia Kerja, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Ahmad Baharuddin, Pendidikan Alternatif Qharyah Thayyibah, Yogyakarta: Lkis, 2007.

Andrea Hirata, Laskar Pelangi, Cet. 17, Yogyakarta: Benteng Budaya, 2008.
                                      
H.A.R Tilaar, Kekuasaan Dan Pendidikan: Suatu Tinjauan Dari Perspektif Kultural, Magelang: Indonesia Tera, 2003.

Managemen Pendidikan Nasional, Kajian Pendidikan Masa Depan, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1998.

Hanry Giroux Et. Al, Countemarratives Cultural Studies And Critical Pedagigies In Postmoderen Spces, New York Adn London: Routladge, 1996.

Henry Guntur Tarigan, Membaca Sebagi Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Angkasa, 1990.

I Gusti Ngurah Oka, Pengantar Membaca Dan Pengajarannya, Surabaya: Usaha Nasional tt.

Sayiddina Ali Bin Abi Thalib, Mutiara Nahjul Balaghah, Peny. Muhammad Bagir, Bandung: Mizan, 1991.

Jalaludin Rakhmat, “ Kecerdasan Majemuk Untuk Sekolah Para Juara”, Kata Pengantar Dalam Thomas R. Hoerr, Buku Kerja Multiple Intelligences, Terj. Ary Nilandari, Bandung: Kaifa,2007.
Belajar Cerdas, Belajar Berbasiskan Otak, Cet. 5, Bandung : Mlc, 2006.

Nana Sudjana, CBSA, Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1989.

Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan, Cet. 2, Jakarta: Paramadina,2003.

Paulo Freirre, Pendidikan Kaum Tertindas, Terj. Utomo Dananjaya, Jakarta: Lp3es,1985.

Rupert C. Lodge, Philosophy Of Education, New York: Harper & Brothers, 1974.

The Liang Gie, Cara Belajar Yang Efisien, Jilid I, Yogyakarta: Pubib, 2002.
Stoltz, Paul G., Adversity Quotient, Mengubah Hambatan Menjadi Peluang, Terj. T. Harmaya, Cet.7, Jakarta: Grasindo, 2007.

Zamroni, Paradigma Masa Depan Pendidikan, Yogyakarta: Bigraf Publishing, 2000.





Keterangan Buku

judul             : Rekonstruksi Pendidikan Nasional
                        (Membangun Paradigma Yang Mencerahkan)
Karangan     : Ngainun Naim
Penerbit         : TERAS, Yogyakarta
Cetakan I      : April 2009
Jumlah hlm : 282 halaman