Halaman

nongol

Selasa, 31 Januari 2012

Pendidikan Multikultural

>  Pendidikan Multikultural<

Sebelum terlampau jauh masuk kedalam wacana pendidikan multikultural alangkah baiknya terlebih dahulu kita melacak dan menjelajah wajah pendidikan di Indonesia. Saat ini pendidikan di Indonesia masih mengalami banyak persoalan yang krusial. pendidikan yang seharusnya mengeluarkan output berkualitas yang bisa menjawab tantangn zaman memang tidaklah mudah, pendidikan adalah project jangka penjang semua negara tak terkecuali Indonesia. Pendidikan menjadi standar dan tolak ukur seberapa jauh sebuah negara itu mampu bersaing di kancah internasional. Semakin baik mutu suatu pendidikan yang dimiliki suatu negara, maka bisa di pastikan kesiapan dan kemapanan negara tersebut tampil di kancah global.
Indonesia, sebuah negaran yang unik kini sedang menggelar karpet merah untuk menuju jenjang mutu pendidikan yang sesuai dengan ke Idealan berasama. Namun sayangnya masih banyak PR yang harus diselesaikan terlebuh dahulu. Dengan kata lain, pendidikan di Indonesia masih banyak mengantong masalah. Mulai dari carut marut pendanaan, sistem yang belum menemukan jati dirinya, kurikulum yang masih seperti ombak dll. Pergantian pemimpin sering kali membawa pergantian kebijakan untuk dunia pendidikan, contoh konkretnya adalah kurikulum yang gonta-ganti tanpa adanya evaluasi, kebijakan buku yang tanpa kontrol hingga sistem Ujian Nasional yang menimbulkan efek domino. Les privat, menyisati rumus-rumus yang panjang, try out, menyontek, mencuri dan menggondol soal UAS, lulus-tidak lulus, semua itu tampil nyata pada tubuh pendidikan Indonesia.
Makalah ini tidak ingin membongkar wajah bopeng dunia pendidikan di Indonesia dan menyalahkan sana-sini, namun pembahasan di atas adalh sebuah refleksi penggugah jiwa-jiwa intelektul untuk bergerak ikhtiar untuk membangun pendidikan Indonesia. Makalah ini penulis buat untuk mencoba mengkaji pada salah satu isu atau wacana dalam dunia pendidikan yang sekarang sedang hangat-hangatnya di perbincangkan. Yankni pendidikan multikultural. Kemajemukan di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya merupakan (sunatullah) siapapun tidak bisa mengelak dari hal tersebut, karena mau tidak mau setiap orang akan menghadapi kemajemukan dalam setiap aktifitas kehidupan. lembaga pendidikan di tuntu untuk mampu menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia yang penuh dengan kemajemukan, pada titik inilah diperlukan strategi pemberdayaan masyarakat dalam dinamilka multikultural. Tawarannya adalah kesadaran multikulturalisme yang dibangkitkan melalui pendidikan multikultural di sekola-sekolah.
Titik tekan multikulturalisme dan pluralisme adalah terletak pada domain bangunan kesadaran akan keragaman bagi setiap komunitas dengan identitas kultural tertentu dan posisinya sebagai bagian dari harmoni kehidupan. jika kita sejenak menengok kebelakang, sejak negara Republik Indenosia terbentuk kesadaran tentang multikulturalisme pun sudah melekat erat dan digunakan oleh pendiri bangsa kita untuk “mendesain kebudayaan bangsa kita”. Tapi, bagi bangsa Indonesia masa kini konsep multikulturalisme seolah-olah menjadi sebuah konsep baru dan asing. Karena kesadaran konsep multikulturalisme yang dibentuk oleh para pendiri bangsa ini tidak tampak pada masa Orde Baru. Kesadaran tersebut dipendam atas nama persatuan dan stabilitas negara yang kemudian memunculkan paham monokulturalisme yang menjadi tekanan utama dan akhirnya semuanya memaksakan pola yang berkarakteristik “penyeragaman” berbagi aspek, sistem sosial, politik dan budaya, sehingga sampai saat ini wawasan multikulturalisme bangsa Indonesia masih sangat rendah. Padahal kesadaran kemajemukan atau multikulturalisme mkerupakan acuan untuk membangun sebuah masyarakat yang memiliki keanekaragaman budaya secara damai dan rukun.
Dan upaya-upaya membangun Indonesia yang multikultural mungkin akan terwujud bila (1) konsep multikulturalisme menyebarluas dan dipahami oleh bangsa Indonesia, serta adanya keinginan bangsa Indonesia pada tingkat nasional maupun lokal untuk mengadopsi dan menjadikan pedoman hidupnya, (2) kesamaan pemahaman di antara para ahli mengenai makna multikulturalisme dan bangunan konsep-konsep yang mendukungnya, (3) upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan cita-cita ini .

Secara normatif, tidak ada satu pun ajaran agama yang mendorong dan mengajak umatnya untuk melakukan tindak kekerasa (violance) dan kerusuhan (unrest) terhadap pengikut agama lain diluar kelompoknya, atau bahkan pemahaman dan penafsiran yang berbeda terhadap ajaran dalam satu agama. Selain itu, secara budaya, ajaran agama juga mengajarkan umatnya saling mengenal satu sama lain (ta’aruf) karena jelas adanya perbedaan latar belakang seperti budaya, bangsa, nahasa, dan jenis kelamin. Akan tetapi, secara empiris-historis-faktual, sesekali dijumpai tindak kekerasan yang dilakukan oleh sebagian anggota masyarakat dengan dalih agama.
Kesadaran multikultural harus dimulai dari menampilkan tafsiran-tafsiran Islam yang benar dan kontekstual, yakni Islam yang berwajah damai, menyejukkan dan menghargai kemajemukan. Pendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik di beberapa daerah. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan mindset (pemikiran) peserta didik akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman.
Dengan pengembangan model pendidikan berbasis multikultural diharapkan mampu menjadi salah satu metode efektif meredam konflik. Selain itu, pendidikan multikultural bisa menanamkan sekaligus mengubah pemikiran peserta didik untuk benar-benar tulus menghargai keberagaman etnis, agama, ras, dan antar-golongan. Sebab problem penstrukturan masyarakat yang heterogen di dalam sebuah wilayah daerah tidak bisa diselesaikan tanpa adanya pendidikan multikultural.
Hadirnya model pendidikan multikultural di tengah-tengah dunia pendidikan kita saat ini menjadi hal yang sangat mendesak. Sebab, selain menawarkan solusi untuk keluar dari konflik-konflik yang berbau SARA, model pendidikan ini juga mengandaikan terbentuknya rasa toleransi, saling menghormati, menghargai dan menjunjung tinggi rasa kebersamaan dalam keberbedaan (uniti in deversity).
Pentingnya pendidikan multikultural ini didasarkan pada lima pertimbangan: (1) ketidak mampuan hidup secara harmoni (incomptibility), (2) tuntutan bahasa lain (other languages acquistion), (3) keragaman budaya (cultural pluralism), (4) pengembangan citra diri yang positif (develpoment of positive self-image), (5) kesetaraan memperoleh kesempatan pendidikan (aquility of educational opportunity).
Definisi pwndidikan multikultural sama halnya dengan namanya, artinya definisisny sangat beragam. Beberapa definisi menyandarkan pendidikan multikultural pada karakteristik keragaman kelompok-kelompok. Adapun definisi pendidikan  multikultural yang paling sering digunakan oleh tokoh-tokoh multikultural, di antaranya adalah:
    Pendidikan multikultural berarti menstrukturkan prioritas, komitmen dan proses pendidikan untuk mereflesikan pluralisme budaya dan menjamin kelangsungan hidup warisan kelompok yang menopang masyarakat, termasuk gagasan-gagasan demokrasi.
    Pendidikan multikultural merupakan kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik yang menunjukan penghormatan atas keragaman budaya melalui filosofi pendidikan, komposisi dan hirarki staf, materi-materi intruksional, kurikulum dan prosedur evaluasi.
    Pendidikan multtikultural merupakan reformasi sekolah yang komprehensif dan pendidikan mendasar untuk semua anak ididk yang menentang semua bentuk diskriminasi dan intruksi yang menindas dan hubungan antara persinal di dalam kelas dan memberikan prinsip-prinsip demokrsi.
    Pendidikan multikultural adalah sebuah gerakan reformasi yang mengubah semua komponen aset-aset pendidikan, neliputi nilai-nilai dasarnya, aturan-aturan prosedural, kurikulum, materi-materi intruksional, struktur organisasi dan kebijakan-kebijakannya yang merefleksikan pluralisme budaya.

Menurut Ngainun Naim dan Achmad Sauqi, jika konsepsi dan tujjuan pendidikan multikultural di terapkan dalam pendidikan Islam, maka secara lebih terperinci, ada beberapa aspek yang dapat dikembangkan dari konsep tersebut. Pertama, pendidikan Islam multikultural adalah pendidikan yang menghargai dan merangkul segala bentuk keragaman. Drngan demikian, diharapkan akan tumbuh kearifan dalam melihat segala bentuk keragaman yang ada.
Kedua, pendidikan islam multikultural merupakan sebuah usaha sistematis untuk membangun pengertian, pemahaman, dan kesadaran anak didik tehadap realitas yang multikultural. Ketiga, pendidikan Islam Multikultural tidak memaksa atau menolak anak didik karena persoalan identitas suku, agama, atau golongan. Mereka yang berasal dari beragam perbedaan harus diposisikan secara setara, egaliter, dan diberikan medium yang tepat untuk mengekspresikan karakter yang mereka miliki. Keempat, pendidikan Islam multikultural memberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembangnya sense of self  kepercayaan diri, terutama bagi anak didik yang berasal dari kalangan ekonomi menengah kebawah, atau kelompok yang relatif terisolasi.
Jika dilacak, Pendidikan Islam Multikultural identik dengan gagasan Islam Transformatif. Islam Transformatif berarti Islam yang selalu berorientasi pada upaya Islam untuk mewujudkan cita-cita Islam, yakni membentuk dan mengubah keadaan masyarakat kepada cita-cita Islam yakni Agama yang memberi rahmat pada seluruh alam (Rahmatan llil’alamin). Dengan mengacu pada tujuan ini, pendidikan Islam multikultural bertujuan untuk menciptakan sebuah masyarakat yang cinta damai, saling toleransi, dan saling menghargai dengan berdasarkan kepada nilai-nilai ke Tuhanan. Perspektif pendidikan Islam multikulturan sangat menentang adanya resisme dan bentuk-bentuk diskrimanasi lainnya di dalam sekolah maupun Masyarakat. Pendidikan Islam multikultural diharuskan menyebarkan kurikulum dan strategi-strategi intruksional yang diterapkan di sekolah-sekolah dan di luar sekolah. 
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam upaya menyusun kurikulum yang kultural, yaitu:
1.    Kebudayaan lokal di Indonesia ratusan jumlahnya, maka dari semua “puncak-puncak kebudayaan daerah” itu harus dipilih beberapa saja yang relevan dan sedikit banyaknya lengkap inventarisasinya;
2.    Sejalan dengan otonomi daerah yang didalamnya juga memuat otonomi penididkan, maka sebaiknya pilihan mana yang relevan dan mana tidak relevan untuk dimasukan ke dalam mata pelajaran yang bersangkutan, harus diserahkan kepada daerah-daerah otonom untuk merundingkannnya sendiri.

  Asumsi Dasar Pendidikan Multikultural

Beberapa tokoh dan ilmuan multikultural telah mengidentifikasi sejumlah asumsi yang kemudian menjadi manfaat jangka penjang pendidikan multikultural dari perspektif global. Diantara asumsi tersebut adalah;
1.    Pendidikan multikultural meningkatkan produtivitas beragam sumber daya mental yang ada untuk melengkapi tugas yang sama dan hal ini mendorong pertumbuhan kognitif dan moral di antara semua manusia.

2.    Pendidikan multikultural meningkatkan hubungan kemampau menyelesaikan masalah secara kreatif melalui perspektif yang berbeda yang diterapkan pada masalah yang sama untuk meraih pemyelesaian-penyelesaian.

3.    Pendidikan multikultural meningkatkan hubungan yang positif melalui mencapai tujuan-tujuan yang sama, menghormati, apresiasi dan komitmen untuk persamaan diantara intelektual pada institusi pendidikan yang lebih tinggi.

4.    Pendidikan multikultural menurunkan stereotip dan predujice melalui kontak secara langsung dan interaksi diantara individu-individu yang berbedda.

5.    Pendidikan multikultural memperbaharui kembali vitalitas masyarakat melelui keberkayaan pebedaan budaya dari masing-masing anggota dan memepercepat perkembangan sebuah pandangan dunia yang lebih luas dan sophisticated.
Asumsi-asumsi dasar inilah yang bisa dijadikan landasan tumbuhnya pendidikan multikultural.

Sabtu, 28 Januari 2012

Kamu PEMUDA??

Yah pemuda memang sebuah akumulasi usia yang diciptakan memiliki potensi yang hebat dibandingkan usia sebelumnya (anak-anak) dan sesudahnya (tua). Potensi ini tentunya tidak hanya bisa diterima dengan ‘gratis’ tanpa kemauan dari pemuda itu sendiri untuk memilikinya. Ianya juga bagaikan sebuah modal yang diberikan oleh Sang Pencipta, sehingga nantinya akan memberikan sebuah peluang ‘untung’ dan ‘rugi’.

Tiga Golongan Pemuda
Oleh karena itu, berdasarkan analisa untung-rugi, setidaknya terdapat 3 (tiga) golongan pemuda yang bertebaran sampai hari ini. Pertama, pemuda dengan segala keuntungannya. Baik yang berprestasi secara akademis atau yang berkesempatan duduk di puncak organisasi. Ini pasti akan mendapatkan sebuah apresiasi. Diundang kesana-kemari, nangkring di tipi, dan segala aktifitas sosial selalu menjadi agenda wajibnya. It’s great!
Kemudian bagaimana dengan pemuda yang hidup dengan segala kerugiannya? Jangankan untuk berprestasi atau mengenyam sampai ke pendidikan tinggi. Program wajib belajar 9 tahun yang menjadi andalan pemerintahpun tidak tercapai oleh mereka. Jangankan untuk duduk dipuncak organisasi, berbicarapun mereka tidak dilirik sama sekali. Hidup penuh dengan gelimang masalah dan selalu dipersalahkan. Mereka sering mendapat julukan ‘sampah’ yang meresahkan masyarakat. Inilah pemuda yang termasuk golongan kedua. Lantas, apakah tidak ada celah apresiasi buat mereka? Mengapa mereka jadi begini?
Siapa golongan ketiga? Mereka adalah pemuda yang mencari untung, atau lebih tepatnya disebut dengan pemuda hipokrit. Keberadaan mereka bagaikan dua sisi, selalu tampil memberikan solusi tapi sebenarnya mereka adalah sumber masalah. Mereka memang mendapatkan anugerah keuntungan sehingga bisa mendapatkan berjubel titel. Tetapi mereka juga yang selalu memanipulasi lingkungan sekitarnya dengan nalar intelektualnya. Mereka memang mendapatkan amanah di berbagai organisasi. Tetapi dengan sarana yang mereka miliki, beragam aksi dilakukan demi memenuhi hasrat untuk sekedar memuluskan karir. Mereka memang melakukan aksi sosial, tapi tidak lebih dari kamuflase yang sebenarnya bertujuan memenuhi kocek-kocek pribadi.
Mari Waspada Bersama!
Kedahiran kaum pemuda yang telah tersetting untuk memenuhi hasrat duniawi ini, sehingga mereka memanfaatkan ‘potensi’ dirinya dengan beragam dalih pembenaran seharusnya patut kita sadari segera. Jika dibiarkan aksi mereka terus bekembang biak. Dampak buruknya akan mengakibatkan hilangnya rasa kepercayaan yang universal kepada kaum muda itu sendiri. Potensi pemuda golongan pertama akan mudah tercemari. Begitu pula dengan pemuda golongan kedua yang seharusnya mendapatkan pembinaan dan diajak untuk beriringan bersama dalam membangun bangsa ini, akan menjadi objek pemanfaatan mereka. Ketidakberesan pemuda akan mereka manfaatkan sebagai tameng proyek kehidupan mereka. Dan bukan tidak mungkin diantaranya dialihkan profesi sebagai preman-preman bayaran yang mampu memuluskan berbagai misinya.
Kita harus sadarii juga, kehadiran mereka bukan hanya berasal dari gejala alamiah seperti teorinya Charles Darwin mengenai makhluk hidup itu. Mereka adalah hasil kerja sistematis sistem yang memang telah diciptakan untuk menjerat potensi yang mereka miliki. Mesin ini terus bekerja mencari titik kelemahan. Sebagaimana manusia pada umumnya, kaum muda yang memiliki semangat yang kuat juga akan mangap jika dihadapi dengan tawaran tahta, harta, dan wanita. Salah satu dari ketiga perangkap ini, ataupun ketiganya menjadi daya tawar bagi mereka yang mengendalikan perangkap tersebut.
Siapa pengendalinya? Mereka adalah kaum tua atau yang hampir tua bahkan renta, yang dulunya juga memiliki nasib yang sama dengan hasil jebakannya hari ini. Jangan heran kalau kemudian kita menemukan lenyapnya suara-suara pemuda yang dulunya jago demonstrasi dengan getaran orasi yang memikat. Tak perlu lagilah kita merindui suara kritis mereka terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat ketika mereka telah berada dalam singasana kekuasan. Dan jangan heran juga mengapa korupsi di negeri ini sulit diberantas? Malah semangat kepemimpinan muda yang selalu didengungkan berbanding lurus dengan munculnya para koruptor baru yang berwajah muda. Wuaaalah!
Lawan, Sampai Titik Kematian!
Oleh karena itu, sebelum mayoritas potensi pemuda dengan segala prestasinya tertarik oleh magnet kekuasan yang hanya membuat bungkam. Paling tidak ada dua hal yang harus segera dilakukan pemuda untuk dirinya sendiri, bukan orang lain. Pertama, deteksilah sejak dini dalam artian segera sadar dimanakah posisi kita. Jangan-jangan kita telah menjadi bagian dari mereka yang dulu kita kritisi. Kedua, persiapkan diri dalam mengisi keseharian hidup: menghindari dan melawan perangkap yang akan mereka pasang. Karena harus kita sadari juga bahwa pelaku demonstrasi dengan suara kritisnya itu telah menjadi salah satu pengendali mesin perangkap yang siap menjerat kita sampai kapanpun.
Mungkin dengan membaca artikel ini akan muncul dialektika dengan argumentasi ‘Sekarang zamannya berbeda Bung!’ Upss... tidak salah, tidak ada yang menyalahkan pemuda mengambil semua peran dalam kehidupan. Malah ini adalah harapan paripurna kita bersama. Salahnya hanya satu, tanyakan dalam diri kita masing-masing, apa alasan dan sebab kita mengambil peran tersebut? Apalagi rembesan demokrasi yang memunculkan sarana multi partai dan peluang besar untuk berkarir di dunia politik. Sehingga bertebaranlah setiap pemuda dalam sarana tersebut. Dulu mereka bersama membangun kekuatan melawan otoriternya kekuasan. Sekarang mereka beradu mempertahankan pendapat demi memperjuangkan harga diri partainya masing-masing. Akhirnya merekapun beradu kekuatan politik untuk meraih kekuasan. Tidak cukup sampai disini, setelah salah satunya menjadi penguasa, adegan saling menyalahkan terus belanjut. Begitu seterusnya dan seterusnya.
Untuk itu tidak perlu menanti peringatan hari sumpah pemuda dan momentum2 yang lainnya yang berkaitan dengan nuansa pemuda, tidak perlu ketika kita harus berada dalam sebuah organisasi pemuda (sunah hukumnya). Tapi kapan dan dimanapun itu, selayaknya kita berharap dan selalu berusaha untuk selalu kuat memutuskan mata rantai hitam yang terus tersusun panjang. Semoga juga kita tidak terlena dengan hiruk pikuknya agenda dan dimana organisasi kita berada. Bisa jadi diantaranya hanyalah bagian dari perangkap melemahkan potensi kaum muda. Paling tidak hal yang harus segera kita yakini adalah sejarah telah membuktikan, di balik kehidupan sang pejuang akan selalu hadir sang pecundang. Tinggal buktikan sendiri, Anda yang mana?

slamat datang kritik yang membangun dan argumen yang argumentatif....... :-p