Halaman

nongol

Sabtu, 28 Januari 2012

Kamu PEMUDA??

Yah pemuda memang sebuah akumulasi usia yang diciptakan memiliki potensi yang hebat dibandingkan usia sebelumnya (anak-anak) dan sesudahnya (tua). Potensi ini tentunya tidak hanya bisa diterima dengan ‘gratis’ tanpa kemauan dari pemuda itu sendiri untuk memilikinya. Ianya juga bagaikan sebuah modal yang diberikan oleh Sang Pencipta, sehingga nantinya akan memberikan sebuah peluang ‘untung’ dan ‘rugi’.

Tiga Golongan Pemuda
Oleh karena itu, berdasarkan analisa untung-rugi, setidaknya terdapat 3 (tiga) golongan pemuda yang bertebaran sampai hari ini. Pertama, pemuda dengan segala keuntungannya. Baik yang berprestasi secara akademis atau yang berkesempatan duduk di puncak organisasi. Ini pasti akan mendapatkan sebuah apresiasi. Diundang kesana-kemari, nangkring di tipi, dan segala aktifitas sosial selalu menjadi agenda wajibnya. It’s great!
Kemudian bagaimana dengan pemuda yang hidup dengan segala kerugiannya? Jangankan untuk berprestasi atau mengenyam sampai ke pendidikan tinggi. Program wajib belajar 9 tahun yang menjadi andalan pemerintahpun tidak tercapai oleh mereka. Jangankan untuk duduk dipuncak organisasi, berbicarapun mereka tidak dilirik sama sekali. Hidup penuh dengan gelimang masalah dan selalu dipersalahkan. Mereka sering mendapat julukan ‘sampah’ yang meresahkan masyarakat. Inilah pemuda yang termasuk golongan kedua. Lantas, apakah tidak ada celah apresiasi buat mereka? Mengapa mereka jadi begini?
Siapa golongan ketiga? Mereka adalah pemuda yang mencari untung, atau lebih tepatnya disebut dengan pemuda hipokrit. Keberadaan mereka bagaikan dua sisi, selalu tampil memberikan solusi tapi sebenarnya mereka adalah sumber masalah. Mereka memang mendapatkan anugerah keuntungan sehingga bisa mendapatkan berjubel titel. Tetapi mereka juga yang selalu memanipulasi lingkungan sekitarnya dengan nalar intelektualnya. Mereka memang mendapatkan amanah di berbagai organisasi. Tetapi dengan sarana yang mereka miliki, beragam aksi dilakukan demi memenuhi hasrat untuk sekedar memuluskan karir. Mereka memang melakukan aksi sosial, tapi tidak lebih dari kamuflase yang sebenarnya bertujuan memenuhi kocek-kocek pribadi.
Mari Waspada Bersama!
Kedahiran kaum pemuda yang telah tersetting untuk memenuhi hasrat duniawi ini, sehingga mereka memanfaatkan ‘potensi’ dirinya dengan beragam dalih pembenaran seharusnya patut kita sadari segera. Jika dibiarkan aksi mereka terus bekembang biak. Dampak buruknya akan mengakibatkan hilangnya rasa kepercayaan yang universal kepada kaum muda itu sendiri. Potensi pemuda golongan pertama akan mudah tercemari. Begitu pula dengan pemuda golongan kedua yang seharusnya mendapatkan pembinaan dan diajak untuk beriringan bersama dalam membangun bangsa ini, akan menjadi objek pemanfaatan mereka. Ketidakberesan pemuda akan mereka manfaatkan sebagai tameng proyek kehidupan mereka. Dan bukan tidak mungkin diantaranya dialihkan profesi sebagai preman-preman bayaran yang mampu memuluskan berbagai misinya.
Kita harus sadarii juga, kehadiran mereka bukan hanya berasal dari gejala alamiah seperti teorinya Charles Darwin mengenai makhluk hidup itu. Mereka adalah hasil kerja sistematis sistem yang memang telah diciptakan untuk menjerat potensi yang mereka miliki. Mesin ini terus bekerja mencari titik kelemahan. Sebagaimana manusia pada umumnya, kaum muda yang memiliki semangat yang kuat juga akan mangap jika dihadapi dengan tawaran tahta, harta, dan wanita. Salah satu dari ketiga perangkap ini, ataupun ketiganya menjadi daya tawar bagi mereka yang mengendalikan perangkap tersebut.
Siapa pengendalinya? Mereka adalah kaum tua atau yang hampir tua bahkan renta, yang dulunya juga memiliki nasib yang sama dengan hasil jebakannya hari ini. Jangan heran kalau kemudian kita menemukan lenyapnya suara-suara pemuda yang dulunya jago demonstrasi dengan getaran orasi yang memikat. Tak perlu lagilah kita merindui suara kritis mereka terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat ketika mereka telah berada dalam singasana kekuasan. Dan jangan heran juga mengapa korupsi di negeri ini sulit diberantas? Malah semangat kepemimpinan muda yang selalu didengungkan berbanding lurus dengan munculnya para koruptor baru yang berwajah muda. Wuaaalah!
Lawan, Sampai Titik Kematian!
Oleh karena itu, sebelum mayoritas potensi pemuda dengan segala prestasinya tertarik oleh magnet kekuasan yang hanya membuat bungkam. Paling tidak ada dua hal yang harus segera dilakukan pemuda untuk dirinya sendiri, bukan orang lain. Pertama, deteksilah sejak dini dalam artian segera sadar dimanakah posisi kita. Jangan-jangan kita telah menjadi bagian dari mereka yang dulu kita kritisi. Kedua, persiapkan diri dalam mengisi keseharian hidup: menghindari dan melawan perangkap yang akan mereka pasang. Karena harus kita sadari juga bahwa pelaku demonstrasi dengan suara kritisnya itu telah menjadi salah satu pengendali mesin perangkap yang siap menjerat kita sampai kapanpun.
Mungkin dengan membaca artikel ini akan muncul dialektika dengan argumentasi ‘Sekarang zamannya berbeda Bung!’ Upss... tidak salah, tidak ada yang menyalahkan pemuda mengambil semua peran dalam kehidupan. Malah ini adalah harapan paripurna kita bersama. Salahnya hanya satu, tanyakan dalam diri kita masing-masing, apa alasan dan sebab kita mengambil peran tersebut? Apalagi rembesan demokrasi yang memunculkan sarana multi partai dan peluang besar untuk berkarir di dunia politik. Sehingga bertebaranlah setiap pemuda dalam sarana tersebut. Dulu mereka bersama membangun kekuatan melawan otoriternya kekuasan. Sekarang mereka beradu mempertahankan pendapat demi memperjuangkan harga diri partainya masing-masing. Akhirnya merekapun beradu kekuatan politik untuk meraih kekuasan. Tidak cukup sampai disini, setelah salah satunya menjadi penguasa, adegan saling menyalahkan terus belanjut. Begitu seterusnya dan seterusnya.
Untuk itu tidak perlu menanti peringatan hari sumpah pemuda dan momentum2 yang lainnya yang berkaitan dengan nuansa pemuda, tidak perlu ketika kita harus berada dalam sebuah organisasi pemuda (sunah hukumnya). Tapi kapan dan dimanapun itu, selayaknya kita berharap dan selalu berusaha untuk selalu kuat memutuskan mata rantai hitam yang terus tersusun panjang. Semoga juga kita tidak terlena dengan hiruk pikuknya agenda dan dimana organisasi kita berada. Bisa jadi diantaranya hanyalah bagian dari perangkap melemahkan potensi kaum muda. Paling tidak hal yang harus segera kita yakini adalah sejarah telah membuktikan, di balik kehidupan sang pejuang akan selalu hadir sang pecundang. Tinggal buktikan sendiri, Anda yang mana?

slamat datang kritik yang membangun dan argumen yang argumentatif....... :-p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar